Penerimaan Santri Baru TKIT As-Sunnah Sidrap 1433 H


PENDAHULUAN
Bismillah. Alhamdulillah, Ma’had Tahfidzul Qur_an As Sunnah membuka program pendidikan TK-IT (Taman Kanak-Kanak Islam Terpadu) yang memiliki fokus utama pengenalan dasar-dasar agama dan pengetahuan umum seperti membaca, menulis (Indonesia & Arab) dan bercakap dengan ucapan yang benar dan islami, serta praktek ibadah dan mu’amalah yang sesuai tuntunan syari’at islam.

SYARAT-SYARAT CALON SANTRI/WATI

  1. Berumur 3-6 tahun
  2. Orang tua / Wali mengisi formulir pendaftaran
  3. Mampu berbicara dengan lancar
  4. Tidak menderita penyakit kronis
  5. Mentaati peraturan TK-IT AS SUNNAH
  6. Memiliki buku paket panduan pelajaran
  7. Dll

WAKTU PENDAFTARAN
19 Desember 2011 s/d 03 Januari 2012

RAPAT ORANG TUA /WALI CALON SANTRI/WATI
05 Januari 2012

MULAI BELAJAR
Insya Alloh program TK-IT AS SUNNAH akan dimulai pada tanggal 9 Januari 2012

JAM BELAJAR
Jam 8.00 – 12.30 WITA

INFORMASI PENDAFTARAN
UNTUK IKHWAH
081355646462 (Ust. Fauzan)
085255600618 (Abu Yahya)
UNTUK AKHWAT/ UMMAHAT
085237639983 (Ummu Muhammad)
085321777780 (Ummu Urwah)

Baca Selengkapnya...

Keutamaan Puasa pada Hari Tasu'a dan 'Asyura (Sembilan dan Sepuluh Muharram)

Oleh: Wira Bachrun Al Bankawy

Di dalam kitab beliau Riyadhus Shalihin, Al-Imam An-Nawawi –rahimahullah- membawakan tiga buah hadits yang berkenaan dengan puasa sunnah pada bulan Muharram, yaitu puasa hari 'Asyura (10 Muharram) dan Tasu'a (9 Muharram).

Hadits yang Pertama

عن ابن عباس رَضِيَ اللَّهُ عَنهُ أن رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم صام يوم عاشوراء وأمر بصيامه. مُتَّفّقٌ عَلَيهِ

Dari Ibnu Abbas - radhiyallahu 'anhuma -, " Bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berpuasa pada hari 'Asyura dan memerintahkan untuk berpuasa padanya". (Muttafaqun 'Alaihi).

Hadits yang Kedua

عن أبي قتادة رَضِيَ اللَّهُ عَنهُ أن رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم سئل عن صيام يوم عاشوراء فقال: ((يكفر السنة الماضية)) رَوَاهُ مُسلِمٌ.


Dari Abu Qatadah - radhiyallahu 'anhu -, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ditanya tentang puasa hari 'Asyura. Beliau menjawab, "(Puasa tersebut) Menghapuskan dosa satu tahun yang lalu". (HR. Muslim)

Baca Selengkapnya...

Daurah Sidrap : 1433 H / 2011 M

Bismillah, Alhamdulillah atas kemudahan dari Allah Subhanahu wa Ta'ala, Insya Allah akan diadakan Daurah Islamiyah sehari, yang akan dibawakan oleh :
AL-USTADZ DZULQARNAIN BIN MUHAMMAD SUNUSI
(Pimpinan Ma’had As-Sunnah, Makassar)
Adapun tema dari daurah ini adalah :
PIJAKAN – PIJAKAN DALAM MEMBANGUN INDIVIDU DAN MASYARAKAT
Daurah ini Insya Allah akan dilaksanakan pada :
Hari Sabtu, 15 Muharram 1433 H. atau bertepatan dengan 10 Desember 2011 M, jam 08.30 sampai dengan jam 11.00 WITA
di : MASJID AR-RAHMAH, AMPARITA
Jl. Poros Soppeng Kec. Tellu LimpoE, Kab. Sidenreng Rappang, Sulsel.
Acara ini juga dapat direlay secara langsung melalui radio streaming di http://www.an-nashihah.com dan http://www.almakassari.com.
Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi al-akh Abu Ibrahim Asnal di nomor 081998427584 dan al-akh Abu Ishaq Abdul Majid di nomor 081355132485. Atas perhatiannya diucapkan jazakumullahu khairan katsiraa

Baca Selengkapnya...

Kajian Rutin Ahlussunnah di Kab. Sidrap, Sul - sel. (Revisi 1 Dzulhijjah 1432 H)

Bismillah. Alhamdulillah atas kemudahan dari Allah Azza wa Jalla, majelis ilmu di Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan kini dilaksanakan secara rutin baik kajian bulanan maupun kajian pekanan, berikut jadwal lengkapnya :

A. KAJIAN BULANAN

1. HARI AHAD PERTAMA

  • Waktu : 09.00 s/d Dzhuhur
  • Materi : Kitab “Kaifa Nurabbi Auladana” (Panduan praktis mendidik anak) karya Syaikh Jamil Zainu rahimahullah
  • Pemateri : Ust. Abu ‘Abdirrahman Musaddad hafizhohullah
  • Tempat : Masjid Imam Syafi'i Kamirie, Lainungan, Kab. Sidrap, Sul-sel.

2. HARI AHAD KEDUA
  • Waktu : 09.00 s/d Dzhuhur
  • Materi Kitab “Sifat shalat Nabi” Karya Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albany rahimahullah
  • Pemateri : Ust. Abu Hamnah Ahmad hafizhohullah
  • Tempat : Masjid As-Sunnah, Kanie, Kab. Sidrap, Sul-sel.

3. HARI SABTU KEEMPAT
  • Waktu : Ba'da Maghrib
  • Materi : Kitab “Riyadhus sholihin” karya Imam An-Nawawi rahimahullah
  • Pemateri : Ust. Abu ‘Abdillah Khidir hafizhohullah
  • Tempat : Masjid As-Sunnah, Massepe, Kab. Sidrap, Sul-sel.

4. HARI AHAD KEEMPAT
  • Sesi I
  • Waktu : Ba'da Shubuh
  • Materi : Kajian Umum
  • Pemateri : Ust. Abu ‘Abdillah Khidir hafizhohullah
  • Tempat : Masjid Agung, Pangkajene Sidrap.

  • Sesi II
  • Waktu : 09.00 s/d Dzhuhur
  • Materi : Kitab “Masa'ilul Jahiliyah” (Perkara-perkara jahiliyah) karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab at-Tamimy rahimahullah
  • Pemateri : Ust. Abu ‘Abdillah Khidir hafizhohullah
  • Tempat : Masjid As-Sunnah, Kanie, Kab. Sidrap, Sul-sel.

B. KAJIAN PEKANAN

1. HARI SENIN
  • Waktu : Ba'da Isya'
  • Materi : Kitab “Taisirul ilah bi syarhi adillati syuruthi Laa ilaaha illallah” (Penjelasan syarat-syarat kalimat Tauhid) karya Syaikh 'Ubaid Al-Jabiry hafizhohullah
  • Pemateri : Ust. Abu Khodijah Hudzaifah hafizhohullah
  • Tempat : Masjid As-Sunnah, Kanie, Kab. Sidrap, Sul-sel.

2. HARI SELASA
  • Waktu : Ba'da Isya'
  • Materi : Kitab “Taisir karimirrahman fit tafsir kalamil manaan - Juz 'Amma” (Tafsir Juz 'Amma dari Tafsir As-Sa'di) karya Syaikh Abdurrahman As-Sa'diy rahimahullah
  • Pemateri :Ust. Abu Muhammad Fauzan hafizhohullah
  • Tempat : Masjid As-Sunnah, Kanie, Kab. Sidrap, Sul-sel.

Baca Selengkapnya...

Tuntunan dalam Iedhul Qurban

Penulis : Ustadz Azhari bin Muhammad Asri

Iedul Qurban adalah salah satu hari raya di antara dua hari raya kaum muslimin, dan merupakan rahmat Allah Subhanahu wa taala bagi ummat Muhammad shallallahu alaihi wa sallam.

Hal ini diterangkan dalam hadits Anas radiyallahu anhu, beliau berkata: Nabi shallallhu alaihi wa sallam datang, sedangkan penduduk Madinah di masa jahiliyyah memiliki dua hari raya yang mereka bersuka ria padanya (tahun baru dan hari pemuda (aunul mabud), maka (beliau) bersabda: "Aku datang kepada kalian, sedangkan kalian memiliki dua hari raya yang kalian bersuka ria padanya di masa jahiliyyah, kemudian Allah menggantikan untuk kalian du a hari raya yang lebih baik dari keduanya; hari Iedul Qurban dan hari Iedul Fitri." (HR. Ahmad, Abu Daud, An-Nasai dan Al-Baghawi, shahih, lihat Ahkamul Iedain hal. 8).

Selain itu, pada Hari Raya Qurban terdapat ibadah yang besar pahalanya di sisi Allah, yaitu shalat Ied dan menyembelih hewan kurban. Insyallah pada kesempatan kali ini kami akan menjelaskan beberapa hukum-hukum yang berkaitan dengan Iedul Qurban, agar kita bisa melaksanakan ibadah besar ini dengan disertai ilmu.

Baca Selengkapnya...

Keutamaan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah

Penulis : Depag Saudi Arabia

Keutamaan Sepuluh Hari (Pertama) Bulan Dzulhijjah

الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين … أما بعد؛
Sesungguhnya merupakan karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala, dijadikan-Nya bagi hamba-hamba-Nya yang shalih musim-musim untuk memperbanyak amal shaleh. Diantara musim-musim tersebut adalah sepuluh hari (pertama) bulan Dzul Hijjah yang keutamaannya dinyatakan oleh dalil-dalil dalam kitab dan Sunnah:

1. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
وَالْفَجْرِ . وَلَيَالٍ عَشْرٍ [ الفجر 1-2]
Demi fajar, dan malam yang sepuluh (Al Fajr 1-2)
Ibnu Katsir berkata: “ Yang dimaksud adalah sepuluh hari (pertama) bulan Dzul Hijjah“

Baca Selengkapnya...

Hukum-hukum dalam merayakan Iedhul Adha

Penulis : Depag Saudi Arabia

HUKUM-HUKUM ‘IDUL ADHA

Akhi Muslim…….
Puji dan syukur kita panjatkan kepada Allah yang telah mempertemukan kita kepada hari yang agung ini dan memanjangkan umur kita sehingga dapat menyaksikan hari dan bulan berlalu dan mempersembahkan kepada kita perbuatan dan ucapan yang dapat mendekatkan kita kepada Allah.

Hari Raya qurban, termasuk kekhususan umat ini dan termasuk tanda-tanda agama yang tampak, juga termasuk syi’ar-syi’ar Islam, maka hendaknya kita menjaganya dan menghormatinya.

ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوْبِ
Demikianlah (perintah Allah), dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati (Al Hajj 32).

Baca Selengkapnya...

Bagaimana mengisi bulan Dzulhijjah ?

Penulis : Depag Saudi Arabia

BAGAIMANA KITA MENYAMBUT BULAN KEBAIKAN INI ??

Hendaklah setiap muslim berupaya untuk menyambut musim kebaikan ini secara umum dengan taubatan nasuha (taubat sungguh-sungguh), meninggalkan dosa dan kemaksiatan, karena dosa-dosalah yang mencegah dari manusia karunia rabb-Nya, dan menutup hatinya dari Tuhannya. Begitu juga dituntut untuk menyambut musim ini dengan tekad yang kuat dan sungguh-sungguh untuk mendapatkan keuntungan atas apa yang Allah ridhoi. Maka siapa yang benar dengan tekadnya Allah akan beri dia petunjuk :
وَالَّذِيْنَ جَاهَدُوا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا [العنكبوت : 69]
Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami “ (Al Ankabut 69)
Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luas-nya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa “ (Ali Imran 133)

Baca Selengkapnya...

Amalan yang dianjurkan dalam sepuluh hari Dzulhijjah

Penulis : Depag Saudi Arabia

Pekerjaan yang dianjurkan pada hari-hari tersebut :
a. Shalat :
Disunnahkan bersegera mengerjakan shalat fardhu dan memperbanyak shalat sunnah, karena semua itu merupakan ibadah yang paling utama. Dari Tsauban radiallahuanhu dia berkata: Saya mendengar Rasulullah bersabda :
Hendaklah kalian memper-banyak sujud kepada Allah, karena setiap kali kamu bersujud, maka Allah mengangkat derajat kamu, dan menghapus kesalahan kamu
Hal tersebut berlaku umum di setiap waktu.

b. Shoum (Puasa) :
Karena dia termasuk perbuatan amal shaleh. Dari Hunaidah bin Kholid dari istrinya dari sebagian istri-istri Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam, dia berkata:
Adalah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam berpuasa pada tanggal sembilan Dzul Hijjah, sepuluh Muharram dan tiga hari setiap bulan (Riwayat Imam Ahmad, Abu Daud dan Nasa’i).
Imam Nawawi berkata tentang puasa sepuluh hari bulan Dzul Hijjah : “Sangat disunnahkan “.

Baca Selengkapnya...

MENGHADAPI GERAKAN KRISTENISASI BERKEDOK LSM BERBENDERA ASING

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم


Alhamdulillah, dengan taufiq dari Allah ta'ala, saat ini Pondok Pesantren An-Nur Al-Atsari Banjarsari Ciamis sedang berjuang menghadapi GERAKAN KRISTENISASI oleh sebuah LSM berbendera asing yang telah mendapatkan dukungan sebagian masyarakat di desa UJUNG GAGAK, Kecamatan Kampung Laut, Kabupaten Cilacap.

Desa ini adalah sebuah desa miskin dunia dan iman sekaligus, sehingga menjadi ladang empuk bagi KEGIATAN PEMURTADAN ummat Islam. Terletak di wilayah Kabupaten Cilacap, namun lebih mudah dijangkau melalui Ciamis dengan menyeberang lewat Pelabuhan Majingklak, kurang lebih 1,5 jam dari Pondok kami.

Dengan 2-3 kilogram beras mereka telah berhasil membeli iman sebagian umat Islam di desa ini, sehingga telah berhasil dimurtadkan beberapa keluarga dan telah berdiri 2 bangunan gereja yang kemungkinan besar tanpa IMB dan tanpa persetujuan masyarakat di sekitarnya.

Saat ini sementara dibangun gereja yang ketiga di lokasi yang berdekatan dengan tanah wakaf untuk pembangunan musholla, sebidang tanah yang telah diwakafkan beberapa tahun yang lalu namun belum dibangun karena tidak adanya dana.

Beberapa langkah yang sementara dan akan kami tempuh insya Allah:
1. Khutbah Jum'at pekan ini dan semoga bisa terus secara berkala
2. Kajian umum mengundang pemerintah dan masyarakat
3. Pengobatan, Pemeriksaan Kesehatan dan KHITAN Gratis
4. Pembagian Sembako Gratis
5. Membuka Lapangan Pekerjaan (?)
6. Beasiswa Pendidikan

Insya Allah kegiatan akan dilaksanakan pada hari Jum'at-Sabtu pekan ini. Bantuan dari kaum muslimin yang sangat kami perlukan:
1. Tenaga Medis
2. Pendanaan
3. Lobi kepada pemerintah Kabupaten Cilacap untuk melarang kegiatan tersebut, melarang pembangunan gereja dan mengeksekusi gedung gereja bermasalah seperti yang dilakukan wlikota Bogor baru-baru ini [yang ditentang oleh GP Anshor - Pemuda NU], jazaahullahu khairon.

Sumbangan dana dapat disumbangkan melalui:

1. BRI: 3153-0100-2706-507 an. Ojan Paojan

2. BNI: 002654-2376 an. Agus Iskandar

Setelah transfer wajib konfirmasi ke nomor 085256842111, dengan menyebutkan nama dan jumlah, jika tidak dikonfirmasi kemungkinan besar tidak akan sampai ke kegiatan ini, sebab nomor rekening tersebut digunakan untuk banyak keperluan.

Untuk informasi dapat menghubungi Ustadz Fauzan hafizhahullah (081219209841).

Sumber : Ust. Sofyan Chalid Ruray, via Facebook

Baca Selengkapnya...

Penerimaan Santri Baru Ma’had Tahfidzul Qur_an As-Sunnah Lilbanin - Sidrap


PENDAHULUAN
Alhamdulillah, telah dibuka program pendidikan Tahfidzul Qur_an As-Sunnah lil banin di kab. Sidrap Sulawesi Selatan, yang memiliki fokus utama pada penghafalan serta perbaikan bacaan Al Qur_an dan hafalan hadits-hadits Nabawiyah sebagai bekal dan dasar di dalam mempelajari dan mendalami syari’at Allah Subhanahu wa Ta'ala.

PROGRAM DASAR
1. Hafalan Al Qur’an Al Karim.
2. Hafalan Hadits Nabawiyah: (Al Arba’in An Nawawiyyah, Umdatul Ahkam, Dll)
3. Ilmu Dasar Tajwid Dan Qiro’ah.
4. Hafalan Do’a Dan Dzikir Sehari-Hari.

PROGRAM UMUM
1. Aqidah: (Khomsuna Su_Alan Fil ‘Aqidah, Tsalatsatul Ushul, Kitabut Tauhid, Fathul Majid, Kasyfusy Syubhat, Dll.)
2. Fiqh: (Praktek Ibadah, Umdatul Ahkam, Dll.)
3. Hadits: (Al Arba’in An Nawawiyyah, Shohih Al Bukhori, Al Adabul Mufrod, Dll.)
4. Bahasa Arab: (Hafalan Mufrodat, Durusul Lughoh, Al Ajurumiyyah, Tuhfatus Saniyah, Al Amtsilah Tashrifiyyah, Dll.)
5. Siroh
6. Dll.

Baca Selengkapnya...

Mengenal Ketinggian Allah Subhanahu wa Ta'ala

Penulis : Dr. Muhammad Al-Khumais

MENGENAL KETINGGIAN ALLAH

Allah yang menciptakan kita mewajibkan kita untuk mengetahui di mana Dia, sehingga kita dapat menghadap kepada-Nya dengan hati, do'a dan shalat kita. Orang yang tidak tahu di mana Tuhannya akan selalu sesat dan tidak akan mengetahui bagaimana cara beribadah yang benar.

Sifat atas atau tinggi yang dimiliki Allah atas makhluk-Nya tidak berbeda dengan sifat-sifat Allah yang lainnya sebagaimana yang diterangkan dalam Al-Qur`an dan hadits yang shahih, seperti "Mendengar", "Melihat", "Berbicara", "Turun" dan lain-lain.

'Aqidah para 'ulama salaf yang shalih dan golongan yang selamat yaitu Ahlus Sunnah wal Jama'ah mempunyai keyakinan yang sesuai dengan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya tanpa ta`wiil (menggeser makna yang asal ke makna yang lain), ta'thiil (meniadakan seluruh atau sebagian sifat-sifat Allah), takyiif (menanyakan hakekat sifat-sifat Allah) dan tasybiih (menyamakan Allah dengan makhluk-Nya). Hal ini berdasarkan firman Allah: "Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (Asy-Syuuraa:11)

Baca Selengkapnya...

Syarat-syarat Tauhid kepada Allah Ta'ala

Penulis : Ustadz Muhammad Umar As Sewed

Kalimat tauhid mempunyai keutamaan yang sangat agung. Dengan kalimat tersebut seseorang akan dapat masuk surga dan selamat dari api neraka. Sehingga dikatakan kalimat tauhid merupakan kunci surga. Barangsiapa yang akhir kalimatnya adalah لا إله إلا الله maka dia termasuk ahlul jannah (penghuni surga).

Namun sebagaimana dikatakan dalam kitab Fathul Majid (Syaikh Abdurrahman Alu Syaikh) bahwa setiap kunci memiliki gigi-gigi. Dan tanpa gigi-gigi tersebut tidak dapat dikatakan kunci dan tidak bisa dipakai untuk membuka. Gigi-gigi pada kunci surga tersebut adalah syarat-syarat لا إله إلا الله. Barang siapa memenuhi syarat-syarat tersebut dia akan mendapatkan surga, sedangkan barangsapa yang tidak melengkapinya maka ucapannya hanya igauan tanpa makna.

Ketika Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam memberikan jaminan surga kepada orang-orang mukmin, Rasulullah menyebutkannya degan lafadz:
مَنْ شَهِدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ. (متفق عليه)
Barang siapa yang bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah (HR. Bukhari Muslim)

Baca Selengkapnya...

Fenomena penyembahan atas berhala gaya baru

Penulis : Bulletin Al Wala wal Bara' Edisi XIX/03/08

Ibadah bila dilihat dari sisi lughowi mempunyai arti ketundukan dan kerendahan, sedangkan menurut makna istilahi ibadah adalah sebutan yang menyeluruh untuk setiap apa yang dicintai Allah dan diridhoiNya dari ucapan-ucapan dan amalan-amalan lahir maupun batin. (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Majmu'ul Fatawa: 10/149)

Adapun al-autsaan diambil dari asal kata al-watsan, yaitu sebuah nama yang digunakan untuk menyebutkan semua jenis peribadahan, seperti do'a, istighotsah yakni minta kelapangan dari segala kesempitan hidup, kondisi yang tidak menentu, kekacauan, ketakutan dan yang lainnya, kemudian isti'anah yakni meminta pertolongan dalam mendatangkan segala kemaslahatan dan menolak berbagai macam mudharat, lalu at-tabarruk, yakni dengan istilah orang sekarang: ngalap berkah dan lain-lainnya dari jenis ibadah yang diperuntukkan kepada selain Allah, seperti kuburan yang dianggap keramat, batu ajaib, paranormal, khodam setia atau rijalul ghoib (jin muslim atau kafir) dan seterusnya.

Baca Selengkapnya...

Bisakah Allah dapat dilihat di dunia ?

Penulis : Al Ustadz Muhammad Umar As Sewed

Disamping adanya kelompok-kelompok yang mengingkari akan dapat dilihatnya Allah pada hari kiamat oleh penghuni surga, ada pula kelompok yang berpendapat sebaliknya. Mereka berpendapat bahwa Allah bisa dilihat di dunia ini oleh para auliya (para wali). Pendapat seperti ini diyakini oleh sebagian kaum muslimin bahwa Syaikh Abdul Qadir Jaelani telah melihat Allah di dunia ini, sebagaimana terdapat dalam buku manaqib Abdul Qadir Jaelani yang sesat dan menyesatkan.

Padahal dalil berupa ayat Al-Qur'an yang telah dibahas pada edisi yang lalu –yang dijadikan dalil oleh mu’tazilah untuk menolak hadits ru’yah—sesungguhnya merupakan dalil yang menunjukkan tidak mungkinnya Allah dilihat di dunia ini. Ayat tersebut yaitu:

قَالَ رَبِّ أَرِنِي أَنْظُرْ إِلَيْكَ قَالَ لَنْ تَرَانِي وَلَكِنِ انْظُرْ إِلَى الْجَبَلِ فَإِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهُ فَسَوْفَ تَرَانِي فَلَمَّا تَجَلَّى رَبُّهُ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُ دَكًّا... ]الأعراف: 143[

Berkata Musa: "Ya Rabb-ku, nampakkanlah (diri-Mu) kepadaku agar aku dapat melihat-Mu". Allah berfirman: "Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke gunung itu. Jika ia tetap berada di tempatnya (seperti sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku". Tatkala Rabb-nya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh.. (al-A’raaf: 143)

Baca Selengkapnya...

Bantahan atas penolak hadits 'Melihat Allah'

Penulis : Al Ustadz Muhammad Umar as Sewed

Kaum mu’tazilah mengingkari hadits-hadits tentang Ru’yah yang menyatakan akan dapat dilihatnya Allah pada hari Kiamat. Mereka berdalil dengan ayat-ayat yang terkesan menafikan secara mutlak akan dilihatnya Allah سبحانه وتعالى pada hari kiamat. Seperti firman Allah:

وَلَمَّا جَاءَ مُوسَى لِمِيقَاتِنَا وَكَلَّمَهُ رَبُّهُ قَالَ رَبِّ أَرِنِي أَنْظُرْ إِلَيْكَ قَالَ لَنْ تَرَانِي وَلَكِنِ انْظُرْ إِلَى الْجَبَلِ فَإِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهُ فَسَوْفَ تَرَانِي فَلَمَّا تَجَلَّى رَبُّهُ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُ دَكًّا وَخَرَّ مُوسَى صَعِقًا فَلَمَّا أَفَاقَ قَالَ سُبْحَانَكَ تُبْتُ إِلَيْكَ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُؤْمِنِينَ. ]الأعراف: 143[

Dan tatkala Musa datang untuk (bermunajat kepada Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Allah telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: "Ya Rabb-ku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau". Allah menjawab: "Kamu sekali-kali tidak akan sanggup melihat-Ku. Tapi lihatlah ke gunung itu, jika ia tetap ada di tempatnya (seperti sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku". Tatkala Rabb-nya menampakkan diri pada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Setelah Musa sadar kembali, dia berkata: "Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada-Mu dan aku orang yang pertama-tama beriman". (al-A’raaf: 143)

Baca Selengkapnya...

Ahlusunnah mengimani bahwa Wajah Allah akan terlihat

Penulis : Al Ustadz Muhammad Umar as Sewed

Bertemu dengan Allah سبحانه وتعالى dan memandang Wajah-Nya kelak pada hari kiamat adalah merupakan sebuah kenikmatan yang tak terhingga besarnya. Oleh karena itu setiap orang yang beriman pasti akan sangat merindukan pertemuan dengan Allah dan memandang Wajah-Nya. Untuk mencapai hal itulah mereka harus berusaha menjalani syarat-syarat yang telah Allah tetapkan dalam al-Qur'an yaitu mengerjakan amalan-amalan shalih dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.

Allah سبحانه وتعالى berfirman:

فَمَنْ كَانَ يَرْجُوا لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحًا وَلاَ يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا. ]الكهف: 110[

Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabb-nya, maka hendaklah ia mengerjakan amal shalih dan janganlah ia mempersekutukan-Nya dalam beribadah kepada Rabb-nya. (al-Kahfi: 110)

Baca Selengkapnya...

Ahlussunnah mengimani sifat Allah "Berbicara"

Penulis : Al Ustadz Muhammad Umar as Sewed

Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan para Ashabul Hadits sejak zaman sahabat sampai hari ini telah meyakini bahwa Allah سبحانه وتعالى memiliki sifat kalam (berbicara). Dan mereka meyakini bahwa Allah سبحانه وتعالى berkuasa untuk berbicara kapanpun dia kehendaki.

Allah سبحانه وتعالى telah menjelaskan dengan tegas dalam ayat-Nya:

...وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَى تَكْلِيمًا. ]النساء: 164[

…Dan Allah telah berbicara langsung kepada Musa. (an-Nisaa’: 164)

Telah diriwayatkan secara mutawatir bahwa ayat ini dibaca dengan rafa’ pada lafdhul jalallah “Allahu”. Dalam ilmu nahwu hal itu berarti Allah sebagai pelaku dari kata kerja kallama atau berarti Allah-lah yang berbicara.

Baca Selengkapnya...

Mengimani akan sifat Kedua Tangan Allah Ta'ala

Penulis : Al Ustadz Muhammad Umar as Sewed

Keimanan terhadap penetapan adanya Tangan bagi Allah merupakan keyakinan Ahlus Sunnah wal jama’ah, sebagaimana telah kami jelaskan pada edisi lalu. Keyakinan ini makin jelas dan tegas karena Al-Qur'an dan as-Sunnah telah menyebutkan adanya sifat Tangan bagi Allah secara terperinci dan disebutkan dengan kanan.

KEDUA TANGAN ALLAH ITU KANAN

Allah سبحانه وتعالى berfirman:

وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّماوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ. ]الزمر: 67[

Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya. Padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci Rabb dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan. (az-Zumar: 67)

Baca Selengkapnya...

Mengimani bahwa Allah Ta'ala memiliki Tangan

Penulis : Al Ustadz Muhammad Umar as Sewed

Pengenalan kepada Allah (ma’rifatullah) merupakan prinsip aqidah yang paling penting yang akan mempengaruhi seluruh amalan, ucapan dan perbuatan seseorang. Oleh karena itu mengenali Allah dan sifat-sifatNya dari sumber yang pasti yaitu Al Qur’an dan hadits yang shahih merupakan kewajiban bagi setiap muslim.

Dalam masalah ini, manusia telah terpecah menjadi sekian aliran dan kelompok-kelompok yang menyimpang. Diantaranya:
1. Ahlu ta’thil yaitu para penolak sifat Allah, seperti mu’tazilah dan jahmiyah. Mereka menolak adanya seluruh sifat-sifat Allah dengan alasan agar tidak sama dengan makhlukNya.
2. Ahlu tasybih yaitu kelompok yang berpendapat sebaliknya. Mereka menganggap semua sifat-sifat Allah sama dengan makhluk-Nya.
3. Ahlu ta’wil yaitu para pentakwil sifat-sifat Allah seperti Asy’ariyah. Mereka menyelewengkan makna dari sifat-sifat Allah tersebut kepada makna-makna lain yang sama sekali tidak berkaitan dengan lafadnya.
4. Ahlu tafwidh yaitu kelompok yang tidak mau memahami dan menterjemahkan makna kalimat-kalimat tersebut. Mereka menyatakan bahwa kita serahkan saja maknanya kepada Allah.

Baca Selengkapnya...

Bagaimana memahami Kebersamaan Allah dengan makhlukNya?

Penulis : Al Ustadz Muhammad Umar as Sewed

Dalam memahami ayat-ayat tentang dekatnya Allah dengan makhluk-Nya, seringkali terjadi kesalahan pada kaum muslimin. Kebanyakan mereka mengira bahwa ayat-ayat tersebut bertentangan dengan dalil-dalil ‘uluw (tinggi)nya Allah di atas ‘Arsy-Nya. Seperti ayat-ayat yang menyatakan kebersamaan Allah سبحانه وتعالى dengan makhluk-Nya sebagai berikut:
...وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ....الحديد:4
…Dan Dia bersama kalian di mana saja kalian berada... (al-Hadiid: 4)

Juga ayat yang menyatakan dekatnya Allah dengan makhluk-Nya. Diantaranya Allah سبحانه وتعالى berfirman:
...وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ. ق: 16
… dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya. (Qaaf: 16)

Ayat-ayat yang menyatakan Allah sebagai ilah di bumi. Seperti Ucapan Allah سبحانه وتعالى:
وَهُوَ الَّذِي فِي السَّمَاءِ إِلَهٌ وَفِي اْلأَرْضِ إِلَهٌ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْعَلِيمُ. الزخرف: 84
Dan Dialah ilah di langit dan ilah di bumi dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. (az-Zukhruf: 84)

Baca Selengkapnya...

Sifat Tingginya Allah di atas seluruh makhluk-Nya

Penulis : Al Ustadz Muhammad Umar as Sewed

Terlalu banyak dalil-dalil yang menunjukkan tingginya Allah سبحانه وتعالى di atas seluruh makhluk-Nya. Kalau kita kumpulkan, maka dalil-dalil tersebut datang dalam berbagai bentuk.

1. Keterangan bahwa Allah beristiwa’ di atas ‘Arsy-Nya

Adapun bentuk yang pertama yaitu tentang isitiwa’nya Allah di atas ‘Arsy-Nya, telah kita sebutkan dalil-dalilnya pada edisi yang lalu. Sebagian di antaranya Allah, firman Allah:
الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى. ]طه: 5[
(Yaitu) Ar-Rahman yang beristiwa’ di atas ‘Arsy. (Thaha: 5)

Dan didalam al-Qur'an terdapat 7 ayat yang serupa dengan ayat di atas.

2. Penjelasan tentang adanya Allah سبحانه وتعالى di langit

Demikian pula ayat-ayat yang menerangkan bahwa Allah di langit. Ibnu Abil ‘Izzi al-Hanafi dalam Aqidah ath-Thahawiyah, hal. 286 berkata: “Para ahli tafsir dari kalangan ahlus sunnah dalam menafsirkan ayat ini menyatakan ada dua makna: yang pertama bermakna di atas langit; dan yang kedua “as-sama’” bermakna ‘uluw (ketinggian), yakni Allah di atas ketinggian.

Baca Selengkapnya...

Cara menafsirkan Al Qur'an

Penulis : Syaikh Muhammad Nashirudin Al Albani

Syaikh Al-Albani ditanya:
Apa yang harus kita lakukan untuk dapat menafsirkan Al-Qur'an ?

Jawaban:
Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menurunkan Al-Qur'an ke dalam hati Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wa sallam agar beliau mengeluarkan manusia dari kekufuran dan kejahilan yang penuh dengan kegelapan menuju cahaya Islam. Allah Ta'ala berfirman dalam Al-Qur'an surat Ibrahim ayat 1 :
الَر كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَى صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ

yang artinya : "Alif, laam raa.(Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji. "

Allah Ta'ala juga menjadikan Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam sebagai orang yang berhak menjelaskan, menerangkan dan menafsirkan isi Al-Qur'an. Firman Allah Ta'ala di dalam surat An-Nahl ayat 44:
بِالْبَيِّنَاتِ وَالزُّبُرِ وَأَنزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ
artinya : "keterangan-keterangan (mu'jizat) dan kitab-kitab.Dan Kami turunkan kepadamu al-Qur'an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka supaya mereka memikirkan..."

Baca Selengkapnya...

Awas !! Wajah baru sihir di sekitar kita

Penulis : Al Ustadz Abu Usamah bin Rawiyah An-Nawa

Sihir dan sejenisnya dari cakupan ilmu-ilmu hitam makin populer dewasa ini. Para 'pakar' berikut iklan 'sihir'-nya bisa ditemui di hampir semua media massa. Merekalah yang seakan-akan menguasai rahasia dan kunci-kunci kehidupan.

Eksistensi mereka kian diperkuat dengan dongeng-dongeng takhayul nenek moyang utamanya yang berkaitan dengan kerajaan-kerajaan nusantara di masa lampau. Jadilah semua itu sebagai sebuah ajaran dan aliran tersendiri yang dibahasakan sebagai bagian dari agama.

Ironisnya, sebagian kaum muslimin kian terbentuk akal dan pikirannya dengan semua itu. Lahirlah kemudian keyakinan yang berasal dari akal yang jumud yang tergantung dan menggantungkan segala-galanya kepada orang-orang "sakti" tersebut.

Bahagia dan sengsara, senang dan susah, sehat dan sakit, berhasil dan gagal, maju dan mundur seolah-olah ada di tangan mereka. Umat pun mulai lupa akan kekuasaan dan ketentuan Allah.

Baca Selengkapnya...

Kajian Al-Qur’an : Syawal 1432 H.


Bismillah. Alhamdulillah atas kemudahan dari Allah Subhanahu wa Ta'ala kembali akan diadakan kegiatan “KAJIAN AL-QUR’AN” yang insya Allah akan dilaksanakan pada :

Hari/Tanggal : Ahad, 25 September 2011
Waktu : Jam 09.30 – 12.00 WITA
Tempat : Masjid As-Sunnah, Kanie, Kab. Sidrap

Adapun Pemateri dan materi yang akan dikaji adalah sebagai Berikut :

1. Al-Ustadz Abu Muhammad Fauzan –hafidzahullah- (Alumni Ma’had As-Sunnah, Makassar) yang akan membawakan materi berjudul “Pengaruh Al-Qur’an terhadap kehidupan hamba” dan,

2. Al-Ustadz Rahmat Hidayat –hafidzahullah- (Alumni Ma’had As-Sunnah, Makassar / Murid Syaikh Muhsin Al-Abbad –hafidzahullah-) yang akan membawakan materi berjudul “Menepis sangkaan adanya pertentangan dalam Al-Qur’an dari juz 30 (dari kitab Asy-Syaikh Muhammad Amin As-Sinqithy rahimahullah)”

Bagi yang membutuhkan informasi lebih lanjut tentang kajian ini dapat menghubungi Al-Akh Abu Ibrahim dengan nomor 081 998 427 584 atau Al-Akh Abu Ishaq dengan nomor 081 355 132 485. Atas perhatiannya diucapkan jazakumullahu khairan katsira.

Baca Selengkapnya...

Seputar Zakat Fitrah dan Hari Raya 'Iedul Fitri (Problema Anda edisi 10)

Zakat Fitrah
Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin t ditanya tentang hukum mengeluarkan zakat fitrah pada sepuluh hari pertama pada bulan Ramadhan?
Beliau t menjawab: Kata zakat fitrah berasal dari kata al-fithr (berbuka), karena dari al-fithr inilah sebab dinamakan zakat fitrah. Apabila berbuka dari Ramadhan merupakan sebab dari penamaan ini, maka zakat ini terkait dengannya dan tidak boleh mendahuluinya (dari berbuka-masuk Syawal-red). Oleh sebab itu, waktu yang paling utama dalam mengeluarkannya adalah pada hari ‘Ied sebelum shalat (‘Ied). Akan tetapi diperbolehkan untuk mendahului (dalam mengeluarkannya) sehari atau dua hari sebelum ‘Ied agar memberi keleluasaan bagi yang memberi dan yang mengambil.

Baca Selengkapnya...

Al-Qur’an Kalamullah Bukan Makhluk [Tanggapan atas Jawaban Seorang Doktor di Detik Ramadhan]

Penulis : Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray

Dalam sebuah tanya jawab di Detik Ramadan yang diasuh oleh seorang Doktor, ada sebuah pertanyaan:

Mohon penjelasan al-Qur’an termasuk makhluk atau kalam (Allah subhanahu wa ta’ala, pen)?

Sang Doktor menjawab:

Pertanyaan tersebut menjadi perdebatan yang panjang dalam sejarah Islam. Jawaban apapun yang kita pilih tetap saja akan menyisakan pertanyaan baru. Namun kami sependapat dengan pandangan ulama sunni yang menyebut sebagai makhluk. Wallahua’alam.

Baca Selengkapnya...

Tanya Jawab Seputar Hubungan Suami Istri di Bulan Ramadhan

Berikut ini kami ketengahkan beberapa fatwa ulama berkaitan seputar hubungan suami istri di bulan Ramadhan. Semoga bermanfaat.

PERTANYAAN: Apakah boleh bagi orang yang berpuasa menyetubuhi istrinya di malam-malam bulan Ramadhan? Dan apa dalilnya?

JAWABAN:

Ya, hal itu dibolehkan dan dalil untuk hal itu adalah firman Allah Ta’ala:

“Dihalalkan buat kalian pada malam puasa untuk menggauli istri-istri kalian.” (QS. Al-Baqarah: 187)

PERTANYAAN: Apa hukum orang yang bersetubuh dengan istrinya di siang hari bulan Ramadhan dan apakah dibolehkan bagi musafir apabila ia telah berbuka kemudian menyetubuhi istrinya?

Baca Selengkapnya...

Wanita di Bulan Ramadhan

Buletin Islam Al Ilmu Edisi No: 36/IX/IX/1432

Para pembaca yang mulia, buletin kali ini adalah sajian khusus untuk kaum wanita di bulan Ramadhan. Namun bukan berarti hanya khusus dibaca oleh mereka saja, karena faedahnya bisa diambil oleh selainnya.

Bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah, bulan yang dirindukan oleh para pencari kebaikan. Pada bulan inilah Allah Subhanahu wa Ta’ala membuka pintu-pintu al-Jannah (surga) dan menutup pintu-pintu an-Naar (neraka), serta membelenggu syaithan, setelah itu diserukan:

“…Wahai para pencari kebaikan, sambutlah…” (HR. at-Tirmidzi no. 682 dan yang lainnya)

Sore hari, seorang ibu rumah tangga sibuk menyiapkan hidangan buka puasa untuk keluarganya. Malam harinya menjelang sahur, ia pun bangun lebih awal untuk menyiapkan hidangan makan sahur. Kesibukan semakin bertambah di kala pekan terakhir menjelang Idul Fitri,

Baca Selengkapnya...

Lailatul Qadar Selalu pada Malam 27?

Penulis : Redaksi Assalafy.org

Sering ada anggapan bahwa kemungkinan besar malam yang dinanti-nanti itu akan tiba pada malam 27. Sehingga, tidaklah mengherankan kalau banyak kaum muslimin -termasuk ikhwanuna salafiyyun- yang menghidupkan malam tersebut dengan porsi ibadah yang lebih dibandingkan malam-malam yang lain.

Yang jelas, tidak ada yang mengetahui kapan terjadinya Lailatul Qadar secara pasti kecuali Allah ‘azza wajalla. Hanya saja, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengisyaratkan dalam sabdanya:

تَحَرَّوْا ليلة القدر في العشر الأواخر من رمضان

“Carilah Lailatul Qadr itu pada sepuluh hari terakhir Ramadhan.” (Muttafaqun ‘alaihi dari Aisyah radhiyallahu ‘anha)

Lebih khusus lagi, adalah malam-malam ganjil sebagaimana sabda beliau:

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِفِي الْوِتْرِمِنَ الْعَشْرِالْأَوَاخِرِمِنْ رَمَضَانَ

“Carilah Lailatul Qadr itu pada malam-malam ganjil dari sepuluh hari terakhir (bulan Ramadhan)”. (HR. Al-Bukhari dari Aisyah radhiyallahu ‘anha)

Baca Selengkapnya...

Panduan Puasa Ramadhan Di Bawah Naungan Al-Qur`an Dan As-Sunnah

Penulis : Ust. Dzulqarnain Bin Muhammad Sunusi Al-Atsary

Berikut ini kami ketengahkan ke hadapan para pembaca tuntunan puasa Ramadhan yang benar, berupa kesimpulan-kesimpulan yang dipetik dari Al-Qur`an dan Sunnah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam yang shohih.

Tulisan ini kami sarikan dari pembahasan luas dari berbagai madzhab fiqh dan kami uraikan dengan kesimpulan-kesimpulan ringkas agar menjadi tuntunan praktis bagi setiap muslim dan muslimah dalam menjalankan puasa Ramadhan.

Harapan kami mudah-mudahan bermanfaat bagi segenap kaum muslimin dan muslimat dalam menjalankan ibadah puasa Ramadhan yang mulia. Amin Ya Rabbal ‘Alamin.

1. Beberapa Perkara Yang Perlu Diketahui Sebelum Masuk Ramadhan.

* Tidak boleh berpuasa sehari atau dua hari sebelum Ramadhan dengan maksud berjaga-jaga jangan sampai Ramadhan telah masuk pada satu atau dua hari itu sementara mereka tidak mengetahuinya. Adapun kalau berpuasa sehari atau dua hari sebelum Ramadhan karena bertepatan dengan kebiasaannya seperti puasa Senin-Kamis, puasa Daud dan lain-lain, maka hal tersebut diperbolehkan.

Baca Selengkapnya...

Download Rekaman Dauroh Nasional Ahlus Sunnah wal Jama’ah 2011 di Masjid Agung Manunggal Bantul

Bismillah, berikut ini adalah hasil rekaman acara Dauroh Nasional dari panitia, namun masih belum kami edit. Barakallahu fiikum
Cara Download: Klik kanan pada file yang ingin Anda unduh, lalu klik “Save Link As” lalu pilih folder untuk menyimpan, klik “Save”. Bagi Anda yang menggunakan software downloader, insya Allah cukup satu kali klik kiri pada mouse. Barakallahu fiikum

Hari Pertama


01-Pembukaan Acara
02-Kajian Sesi 1 oleh Asy-Syaikh Abdullah al-Mar’ie
03-Kajian Sesi 2 oleh Asy-Syaikh Abdullah al-Mar’ie [Lanjutan Terjemah]
04-Kajian Sesi 3 oleh Asy-Syaikh DR. Khalid Azh-Zhafiri
05-Kajian Sesi 4 oleh Asy-Syaikh DR. Khalid Azh-Zhafiri

Hari Kedua


01-Kajian Sesi 1 oleh Asy-Syaikh Abdullah al-Mar’ie
02-Kajian Sesi 1 oleh Asy-Syaikh Abdullah al-Mar’ie
03-Teleconferece bersama Syaikh Ubaid dan Lanjutan materi Asy-Syaikh DR. Khalid Azh-Zhafiri
04-Kajian Sesi 4 oleh Asy-Syaikh DR. Khalid Azh-Zhafiri dan Penutupan

wallhamdulillah…


Sumber : www.salafy.or.id

Baca Selengkapnya...

BERPUASA DAN BERBUKA BERSAMA PENDUDUK NEGERI

Penulis : Syaikh Abdul Aziz Bin Baaz Rahimahullah ditanya:

Sesungguhnya saya berbuka puasa dihari terakhir bulan ramadhan di Irak setelah saya mendengar melalui radio siaran Arab Saudi bahwa hilal (syawal) telah terlihat, demikian pula melalui siaran Radio Suriah, dan yang lainnya. Maka saya pun berbuka puasa (menetapkan satu syawal) dibangun diatas hal tersebut. Perlu diketahui bahwa sayapun tahu bahwa negeri tempat saya bermukim penduduknya masih melanjutkan puasanya. Bagaimana hukum hal ini? Apa yang menjadi sebab perselisihan kaum muslimin tentang bulan ramadhan?

Beliau menjawab:

Yang wajib bagimu untuk tetap bersama penduduk negerimu, jika mereka berbuka maka berbukalah bersama mereka, dan jika mereka berpuasa maka berpuasalah bersama mereka. Berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam:

الصَّوْمُ يوم تَصُومُونَ وَالْفِطْرُ يوم تُفْطِرُونَ وَالْأَضْحَى يوم تُضَحُّونَ

“Berpuasa adalah dihari kalian berpuasa, dan berbuka adalah dihari kalian berbuka, dan berkurban adalah dihari kalian berkurban”.

Baca Selengkapnya...

KALIMAT PENUTUP DAURAH MASYAYIKH, YANG DISAMPAIKAN OLEH SYAIKH KHALID BIN DHAHAWI AZH-ZHAFIRI HAFIZHAHULLAH TA’ALA

Bismillahirrahmanir Rahim

Satu kalimat dipagi hari ini, disebabkan karena tidak lama lagi kami akan melanjutkan perjalanan Insya Allah, maka saya berkata:

Pada hakekatnya, kami berterima kasih kepada kalian atas kesungguhan kalian untuk hadir (dalam daurah ini) dan semangat kalian untuk menuntut ilmu, dan perhatian kalian dan kemuliaan kalian dalam menjamu para tamu. Hal ini sangat jarang kami dapati di negeri- negeri yang lain. Sebagaimana yang telah kami katakan: bahwa tidaklah kami keluar meninggalkan negeri ini melainkan kami selalu merasa rindu untuk kembali lagi kepadanya, disebabkan apa yang kami saksikan dari persaudaraan yang jujur, dan perhatian yang besar kepada ilmu dari para ikhwan disini, dan pada kalian seluruhnya insya Allah.

Maka saya ingin wasiatkan kepada kalian wahai saudara-saudaraku karena Allah, aku nasehatkan untuk diriku dan juga kalian:

Baca Selengkapnya...

Menjaga Kesucian Fitrah Manusia

Penulis: Al Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah An-Nawawi

Setiap orang diberi fitrah oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala berupa kesucian (jiwa yang lurus). Ia akan mengawali kehidupannya dengan fitrah suci ini. Setelah itu bisa terjadi perubahan yang sangat cepat dan drastis tanpa bisa diduga arahnya. Para penyeru kerusakan fitrah ini jumlahnya sangat banyak sehingga jangan heran bila orang yang keluar dari jalur kesucian jiwa ini lebih banyak daripada yang istiqamah.
Lingkungan, teman, keluarga, masyarakat, dan pendidikan memiliki andil besar dalam hal ini. Media massa juga tidak kalah hebat memberikan andil terjadinya kerusakan tersebut. Keinginan untuk merubah diri (menjadi baik) telah hilang dari kebanyakan orang, sementara bola api yang ditendang oleh para penyeru kerusakan itu membakar di sana sini. Bila terkena percikannya akan menjadi abu yang siap ditiup angin, sementara hampir tidak ada orang yang tampil membantu dan membela karena orang yang ingin menolong pun tidak lepas pula dari mangsa bola api tersebut. Di saat kritis seperti inilah setiap insan sangat butuh kepada wahyu yang akan menyirami, menyejukkan dan memelihara dirinya. Setelah itu akan sangat jelas lagi siapa yang akan selamat di atas wahyu tersebut dan yang akan binasa selama-lamanya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

لِيَهْلِكَ مَنْ هَلَكَ عَنْ بَيِّنَةٍ وَيَحْياَ مَنْ حَيَّ عَنْ بَيِّنَةٍ

“Agar orang yang binasa itu binasanya dengan keterangan yang nyata dan agar orang yang hidup itu hidupnya dengan keterangan yang nyata pula.” (Al-Anfal: 42)

Baca Selengkapnya...

Ulama Al Jarh wa At Ta'dil, Sosok Penjaga dan Pembela Agama Allah

Penulis: Al Ustadz Abu Ishaq Muslim Al-Atsari

Abu Ghalib berkata: “Ketika didatangkan kepala orang-orang Azariqah1 dan dipancangkan di atas tangga Damaskus, datanglah Abu Umamah Al-Bahili radhiallahu 'anhu. Ketika melihat mereka, air matanya pun mengalir dari kedua pelupuknya.

كِلاَبُ النَّارِ، كِلاَبُ النَّارِ، كِلاَبُ النَّارِ. هَؤُلاَءِ شَرَّ قَتْلَى قُتِلُوْا تَحْتَ أَدِيْمِ السَّمَاءِ وَخَيْرَ قَتْلَى قُتِلُوا تَحْتَ أَدِيْمِ السَّمَاءِ الَّذِيْنَ قَتَلَهُمْ هَؤُلاَءِ

“Anjing-anjing neraka, anjing-anjing neraka, anjing-anjing neraka!” kata Abu Umamah. “Mereka ini sejelek-jelek orang yang dibunuh di bawah naungan langit ini. Dan sebaik-baik orang yang terbunuh di bawah naungan langit ini adalah orang-orang yang mereka bunuh,” lanjutnya.
Kata Abu Ghalib: “Ada apa denganmu hingga mengalir air matamu?”
“Karena kasihan terhadap mereka, dulunya mereka itu termasuk ahlul Islam,” jawab Abu Umamah.
Abu Ghalib berkata: Kami bertanya: “Apakah engkau mengatakan ‘mereka itu anjing-anjing neraka’ dengan pendapatmu sendiri atau perkataan yang engkau dengar dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam?”
“Kalau aku mengatakan dengan pendapatku sendiri, maka sungguh betapa beraninya aku. Tapi perkataan seperti itu aku dengar dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak hanya sekali, bahkan tidak hanya dua tiga kali,” jawab Abu Umamah.
Hadits di atas diriwayatkan Al-Imam Ahmad rahimahullah dalam Musnad-nya (5/253). Guru kami Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah setelah membawakan hadits ini, beliau berkata: “Hadits ini jayyid, Abu Ghalib adalah rawi yang hasanul hadits.” (Al Jami’ush Shahih, 1/201)

Baca Selengkapnya...