Muhaasabatun Nafs

Penulis : Penulis : Al-Ustadz Fahmi Abubakar Jawwas

Dari Abi Hurairah Radiyallah Anhu berkata,Rasulallah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:"seseorang dari kalian melihat kotoran dimata saudaranya dan melupakan batang pohonan yg membentang dimatanya(dishahihkan Syaikh Albani Rahimahullah di Shahih Al-Jaami' no 8013)

berkata Abdur Ro'uuf Al-Manaawi sepertinya manusia,karena kekurangannya dan kecintaannya kepada dirinya,mencermati pandangan dlm kesalahan saudaranya dan dia mendapatkannya walaupun tersembunyi,maka dia buta dgn kesalahanya sendiri yg tampak dan tdk tersembunyi dgnnya ini dimisalkan bagi siapa saja yg melihat kesalahan yg kecil dari manusia kemudian dia menghina mereka dengannya,dan didlmnya terdapat kesalahan,apa-apa yg disandarkannya kepadanya seperti penyandaran batang kepada kotoran mata dan ini adalah dari seburuk-buruknya keburukan,dan seburuk-buruknya kesalahan yg ditampakan,maka semoga Allah memberikan rahmatnya bagi orang yg menjaga hatinya,perkataannya dan tetap mengurusi perkaranya,dan menjaga kehormatan saudaranya,dan berpaling dari apa-apa yg tdk penting baginya,maka barang siapa yg menjaga wasiat ini,maka akan senantiasa keselamatannya bersamanya dan sedikitlah penyesalannya,maka menyerahkan permasalahan kepada yg lebih pengalaman darinya itu lebih selamat,dan Allah lah yg lebih A'laa dan jg A'lam,dan pujian Allah kepada orang yg mengatakan:"

#aku melihat seluruh manusia,melihat kesalahan selainnya#
#dan dia buta dari kesalahan yg dia berada didalamnya#
#maka tdk ada kebaikan bagi orang yg tdk melihat kesalahan dirinya#
#dan dia melihat kesalahan yg berada disaudaranya#
(Faidh Al- Qodiir Syarh Al- Jaami'i Ash-Shogiir no 9992 jld 6/456)

Imam Abdul Ghani Al-Maqdisi Rahimahullah berkata:"dan barang siapa yg tdk mampu berjalan diatas jalan yg lurus,maka bersungguh-sungguhlah dia untuk mendekatkan dirinya kepada jalan yg lurus,maka sesungguhnya keselamatan itu dgn amalan yg shaleh.

dan tdklah tercipta amalan-amalan shaleh kecuali dari akhlak-akhlak yg baik,maka bagi setiap hamba agar dia mencari sifat-sifat yg baik dan akhlak-akhlak yg baik itu,agar dia menyibukan dirinya dgn satu pengobatan setelah pengobatan yg satunya,dan agar bersabar dgn mempunyai tekad terhadap kepedihan yg dirasakan dari perkara ini,maka sesungguhnya perkara tersebut akan terasa ni'mat seperti ni'matnya penyapihan untuk bayi setelah bencinya dia dgn penyapihan itu,jikalau dikembalikan ke payudara sungguh dia akan membencinya,dan barang siapa yg mengetahui pendeknya umur jika dibandingkan dgn lamanya kehidupan diakhirat,dia akan memikul kesukaran dgn bepergian berhari-hari untuk mendapatkan keni'matan yg abadi,maka ketika pagi hari suatu kaum memuji orang yg mulia serta dermawan.

dan ketahuilah:”sesungguhnya Allah Azza Wa Jalla jika menginginkan kebaikan kepada hambanya maka Allah akan memberikan menampakan kepadanya aibnya sendiri,maka barang siapa yg mempunyai penglihatan yg tajam,maka tdk akan tersembunyi aibnya sendiri,dan jika dia mengetahui aib-aib itu sendiri,dia berusaha dengan kuat untuk mengobatinya,tetapi kebanyakan manusia bodoh akan aibnya mereka sendiri,salah seorang dari kalian melihat kotoran dimata saudaranya dan tdk melihat batang pohonan yg membentang dimatanya[1] .

maka barang siapa yg ingin mencari kesalahan dirinya maka baginya melakukan empat cara:

1.cara yg pertama agar dia duduk belajar bersama Syaikh yg dia tajam penglihatannya dengan penyakit-penyakit hati,dia mengetahui aib-aib dirinya dan cara mengobatinya,dan ini sangatlah jarang adanya dizaman ini,maka barang siapa yg duduk dengannya,maka dia telah duduk bersama dokter yg pandai,dan janganlah dia berpisah dengannya.

2.cara yg kedua agar dia mencari teman yg jujur yg cermat yg memegang agamanya dengan kuat,dan menjadikannya sebagai teman dekatnya agar memperingatkannya atas perbuatan yg dibenci dari akhlak-akhlaknya dan amalannya.

dan Amiirul Mu’miniin Umar bin Khattab Radiyallahu Anhu berkata:” semoga Allah merahmati orang yg memberikan petunjuk kepada kami atas aib-aib kami.

dan Salman Radiyallahu anhu telah bertanya kepada Umar Radiyallahu Anhu ketika telah tiba dan tampak aibnya,maka dia berkata:”aku mendengar bahwasanya engkau telah mengumpulkan dua lauk pauk diatas meja makan,dan sesungguhnya kamu mempunyai 2 pakaian,pakaian untuk malam hari dan pakaian untuk siang hari,maka dia berkata:apakah ada hartamu selain ini? beliau berkata tdk؛,beliau berkata:adapun ini telah mencukupiku keduanya.

dan Umar Radiyallahu Anhu bertanya kepada Hudzaifah Radiyallahu Anhu:apakah didiriku ada sifat-sifat kemunafikan?dan ini dikarenakan setiap siapa saja yg tinggi derajatnya pada hakikatnya maka akan tambahlah perhatiannya untuk dirinya,hanya saja dizaman sekarang ini sangatlah langka mendapatkan teman yg dengan sifat seperti ini,karena sesungguhnya sangatlah sedikit didalam persahahabatan yg meninggalkan mencari muka,maka dia mengabarkan dgn aib atau meninggalkan hasad,maka janganlah dia menambahkannya diatas ukuran yg wajib,dan sungguh para salaf mencintai seseorang yg mengingatkan mereka terhadap aib-aib mereka,dan kita dizaman sekarang keumumannya,orang yg paling kita benci adalah orang yg memberitahukan kepada kita aib-aib kita,dan ini adalah tanda dari lemahnya iman,maka sesungguhnya akhlak yg buruk adalah seperti kalajengking,kalau seandainya ada seseorang yg memperingati kita bahwasanya dibawah pakaian salah seorang dari kita ada kalajengking kita akan memberikan kalung penganugrahan baginya,dan kita akan menyibukan diri kita untuk membunuhnya,dan akhlak yg hina lebih besar bahayanya dari pada kalajengking walaupun dalam keadaan yg tdk tersembunyi.

3.agar dia mendapatkan faedah tentang pengetahuan dirinya dari lisan musuh-musuhnya,maka sesungguhnya pandangan kemurkaan atau permusuhan itu menampakan suatu cela,dan manusia mengambil suatu manfaat dari musuhnya yg bertikai mengingatkan akan aibnya,lebih banyak dari mengambil manfaatnya dari teman yg mencari muka yg menyembunyikan aibnya.

4.agar dia berteman dengan manusia maka setiap sesuatu yg dia lihat ada cela diantara mereka maka jauhilah mereka(Muktashor Minhaajil Qaasidiin jld 3/14)



[1] dishahihkan oleh Syaik Albani Rahimahullah di Shahiih Al-Jaami' no 8013 ,

Tidak ada komentar: