Seorang penanya berkata: Wahai Syaikh kami, semoga Allah menjagamu.
Di antara taufiq Allah bagi para penuntut ilmu, hadirnya (pelajaran)
Muqoddimah Muslim beserta penjelasannya dari anda yang mulia. Akan
tetapi nikmat ini, yaitu kaidah-kaidah yang disebutkan oleh Imam Muslim
telah menjadi rancu atas sebagian orang, sebagian mereka menerapkannya
atas sebagian saudara-saudaranya dari kalangan Ahlussunnah. Jika seorang
alim berijtihad membid’ahkan seseorang dan ia diselisihi oleh (seorang
alim) yang lain, mereka ini mengharuskan orang lain untuk membid’ahkan
orang tersebut, kemudian mereka berpindah kepada orang-orang yang
menyelisihi mereka dan memboikot dan mentahdzirnya dengan keyakinan
bahwasanya ini adalah manhaj Salaf, padahal akidah dan manhaj kedua
belah pihak adalah satu.

Nasehat Syaikh Abdul Muhsin Al-’Abbaad hafidzahullah
KALIMAT PENUTUP DAURAH MASYAYIKH, YANG DISAMPAIKAN OLEH SYAIKH KHALID BIN DHAHAWI AZH-ZHAFIRI HAFIZHAHULLAH TA’ALA
Bismillahirrahmanir Rahim
Satu kalimat dipagi hari ini, disebabkan karena tidak lama lagi kami akan melanjutkan perjalanan Insya Allah, maka saya berkata:
Pada hakekatnya, kami berterima kasih kepada kalian atas kesungguhan kalian untuk hadir (dalam daurah ini) dan semangat kalian untuk menuntut ilmu, dan perhatian kalian dan kemuliaan kalian dalam menjamu para tamu. Hal ini sangat jarang kami dapati di negeri- negeri yang lain. Sebagaimana yang telah kami katakan: bahwa tidaklah kami keluar meninggalkan negeri ini melainkan kami selalu merasa rindu untuk kembali lagi kepadanya, disebabkan apa yang kami saksikan dari persaudaraan yang jujur, dan perhatian yang besar kepada ilmu dari para ikhwan disini, dan pada kalian seluruhnya insya Allah.
Maka saya ingin wasiatkan kepada kalian wahai saudara-saudaraku karena Allah, aku nasehatkan untuk diriku dan juga kalian:
ARTI SEBUAH CINTA
Penulis: Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah An-Nawawi
Cinta bisa jadi merupakan kata yang paling banyak dibicarakan manusia. Setiap orang memiliki rasa cinta yang bisa diaplikasikan pada banyak hal. Wanita, harta, anak, kendaraan, rumah dan berbagai kenikmatan dunia lainnya merupakan sasaran utama cinta dari kebanyakan manusia. Cinta yang paling tinggi dan mulia adalah cinta seorang hamba kepada Rabb-nya.
Kita sering mendengar kata yang terdiri dari lima huruf: CINTA. Setiap orang bahkan telah merasakannya, namun sulit untuk mendefinisikannya. Terlebih untuk mengetahui hakikatnya. Berdasarkan hal itu, seseorang dengan gampang bisa keluar dari jeratan hukum syariat ketika bendera cinta diangkat. Seorang pezina dengan gampang tanpa diiringi rasa malu mengatakan, “Kami sama-sama cinta, suka sama suka.” Karena alasan cinta, seorang bapak membiarkan anak-anaknya bergelimang dalam dosa. Dengan alasan cinta pula, seorang suami melepas istrinya hidup bebas tanpa ada ikatan dan tanpa rasa cemburu sedikitpun.
UNTUKMU, PARA PENUNTUT ILMU
Penulis: Ummu ‘Affan Nafisah bintu Abi Salim'
Berikut ini adalah nasihat berharga yang ditinggalkan oleh seorang ‘alim yang mulia yang kini telah tiada. Keharuman ilmunya yang semerbak tetap dinikmati oleh para penuntut ilmu yang ingin meraup faidah darinya, Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Abdullah bin Baz, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmatinya
Kuwasiatkan bagi seluruh kaum muslimin untuk bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mempelajari agama di berbagai madrasah ataupun tempat menuntut ilmu agama lainnya, dan hendaknya mereka bertanya kepada ulama mengenai hukum-hukum agama yang masih menjadi permasalahan bagi mereka, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala ta’ala berfirman:
“Dan bertanyalah kepada orang-orang yang berilmu, jika kalian tidak mengetahui.” (Al-Anbiya: 7)
QALBU MENGERAS KARENA JAUH DARI ALLAH
Penulis: Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Maka celakalah bagi mereka yang keras qalbunya dari berdzikir kepada Allah. Mereka berada dalam kesesatan yang nyata.” (Az-Zumar: 22)
Tidaklah Allah memberikan hukuman yang lebih besar kepada seorang hamba selain dari kerasnya qalbu dan jauhnya dari Allah subhanahu wa ta’ala. An-Naar (neraka) adalah diciptakan untuk melunakkan qalbu yang keras. Qalbu yang paling jauh dari Allah adalah qalbu yang keras, dan jika qalbu sudah keras mata pun terasa gersang. Qalbu yang keras ditimbulkan oleh empat hal yang dilakukan melebihi kebutuhan: makan, tidur, bicara, dan pergaulan.
Sebagaimana jasmani jika dalam keadaan sakit tidak akan bermanfaat baginya makanan dan minuman, demikian pula qalbu jika terjangkiti penyakit-penyakit hawa nafsu dan keinginan-keinginan jiwa, maka tidak akan mempan padanya nasehat.
Tanggapan Syaikh Muhammad al-Madkhali tentang apa yang sedang terjadi di Tunisia
Syaikh Muhammad al-Madkhali hafidzhahullah
ARABIC :
السائل:الأخ من تونس يا شيخ ، يسأل عن الأحوال في تونس الآن ،المشاكل،والفوضى هناك ما نصيحتكم لهؤلاء؟.
الشيخ-حفظه الله-:والله هذه الأحوال التي تجري في تونس،أو في الجزائر لا نقر هذا الأمر ولا نرضاه ، لأنه في الحقيقة لم يتبعوا فيه سنة رسول الله- صلى الله عليه وسلم- ، وهدي أصحابه الكرام-رضي الله عنهم-، وإنما اتبعوا فيه الغرب : أوربا وأمريكا ، ودليلنا على هذا لا نتعب نحن في البحث عنه :تصريح المتكلمين من زعماء المعارضة في هذه البلدان ،كما يقال :إما الحزب الاشتراكي، أو اليسار-جناح اليسار-، أوقل ما شئت من هذه الأسماء التي سمعناها ،كلهم يحتجون بأننا لم نصل إلى الدرجة التي وصل إليها الغرب في حرية التعبير ، ما شاء الله ! ، يعني: بما تشاء ، تعبر بحرية سواء فسق ، أوكفر، أو بدع ، أو ضلالات...إلخ . هذا باطل ، والعمل وفرصه توفيق من الله تبارك وتعالى ، وتفضل من الله تبارك وتعالى .
Khutbah Jum'at Syaikh Abdullaah bin Mar'ii bin Buraik Al-'adeni Hafidzahullaah(tentang Mesir Tunisia dan negara Islam lainnya)
ان الحمد لله نحمده تعالى و نستعينه و نستغفره و نعوذ بالله من شرور أنفسنا وسيآت أعمالنا من يهدي الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له
أشهد ألا اله الا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده و رسوله صلى الله عليه وسلم
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ (ال عمران :١٠٢)
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا (النساء :١)
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا (#) يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا (الأحزاب 70-71)
أما بعد , عباد الله
ان أصدق الحديث كتاب الله وخير الهدي هدي محمد صلى الله عليه و سلم وشر الأمور محدثاتها وكل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة وكل ضلالة في النار
[
Sesungguhnya Allaah telah memberikan keni’matan kepada hamba-Nya dengan ni’mat yg sangat banyak,yg kalian tidak bisa menghitungnya lagi menentukan jumlahnya,dan Dialah Subhaanahu Wata’ala yg berfirman
وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لا تُحْصُوهَا إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ (النحل :١٨)
Artinya :”dan jika kalian menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kalian tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(Qs.An-Nahl:18)
Anak dan Masa Depan Umat
Ditulis oleh Al Ustadz Abu Hamzah Al Atsari.
Anak adalah harapan di masa yang akan datang. Kalimat ini seringkali kita dengar dan amat lengket di benak kita. Tak ada yang memungkiri ucapan itu, karena memang ia sebuah kenyataan bukan hanya sekedar ungkapan perumpamaan, benar-benar terjadi bukan sebatas khayalan belaka. Karenanya sudah semestinya memberikan perhatian khusus dalam hal mendidiknya sehingga kelak mereka menjadi para pengaman dan pelopor masa depan umat Islam.
Lingkungan pertama yang berperan penting menjaga keberadaan anak adalah keluarganya sebagai lembaga pendidikan yang paling dominan secara mutlak lalu kemudian kedua orangtuanya dengan sifat-sifat yang lebih khusus. Sesungguhnya anak itu adalah amanat bagi kedua orangtuanya. Di saat hatinya masih bersih, putih, sebening kaca jika dibiasakan dengan kebaikan dan diajari hal itu maka ia pun akan tumbuh menjadi seorang yang baik, bahagia di dunia dan akhirat. Sebaliknya jika dibiasakan dengan kejelekan dan hal-hal yang buruk serta ditelantarkan bagaikan binatang, maka akan tumbuh menjadi seorang yang berkepribadian rusak dan hancur. Kerugian mana yang lebih besar yang akan dipikul kedua orangtua dan umat umumnya apabila meremehkan pendidikan anak-anaknya.
Muhaasabatun Nafs
Penulis : Penulis : Al-Ustadz Fahmi Abubakar Jawwas
Dari Abi Hurairah Radiyallah Anhu berkata,Rasulallah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:"seseorang dari kalian melihat kotoran dimata saudaranya dan melupakan batang pohonan yg membentang dimatanya(dishahihkan Syaikh Albani Rahimahullah di Shahih Al-Jaami' no 8013)
berkata Abdur Ro'uuf Al-Manaawi sepertinya manusia,karena kekurangannya dan kecintaannya kepada dirinya,mencermati pandangan dlm kesalahan saudaranya dan dia mendapatkannya walaupun tersembunyi,maka dia buta dgn kesalahanya sendiri yg tampak dan tdk tersembunyi dgnnya ini dimisalkan bagi siapa saja yg melihat kesalahan yg kecil dari manusia kemudian dia menghina mereka dengannya,dan didlmnya terdapat kesalahan,apa-apa yg disandarkannya kepadanya seperti penyandaran batang kepada kotoran mata dan ini adalah dari seburuk-buruknya keburukan,dan seburuk-buruknya kesalahan yg ditampakan,maka semoga Allah memberikan rahmatnya bagi orang yg menjaga hatinya,perkataannya dan tetap mengurusi perkaranya,dan menjaga kehormatan saudaranya,dan berpaling dari apa-apa yg tdk penting baginya,
Hikmah Ilahi di Balik Musibah yang Melanda
Penulis : Tim Redaksi Buletin Al-Ilmu
Para pembaca yang dirahmati Allah, belakangan ini negeri kita Indonesia diguncang berbagai musibah. Rangkaian bencana, gempa, tsunami, gunung meletus, banjir, dan lain sebagainya telah menelan banyak korban, baik nyawa maupun harta benda. Sedangkan yang selamat, tidak sedikit dari mereka yang harus tinggal di pengungsian, bahkan terpisahkan dengan keluarga dan karib kerabat.
Beberapa kalangan pun ramai mengeluarkan statement-statement terkait dengan sebab terjadinya musibah yang melanda tersebut. Diantara mereka ada yang mengatakan bahwa musibah merupakan peristiwa alam semata, tidak ada kaitannya dengan agama. Sebagian lainnya mengatakan bahwa musibah merupakan ketentuan dan takdir Allah Subhanallahu wa Ta’ala yang tidak ada kaitannya dengan dosa. Ada lagi yang mengatakan bahwa musibah merupakan kejadian untuk membuat takut manusia dan tiada kaitannya dengan dosa. Ada juga yang menghubungkannya dengan perkara-perkara gaib. Dan banyak lagi kepentingan-kepentingan duniawi dalam mengomentari terjadinya musibah tersebut. Hanya kepada Allah saja kita memohon petunjuk. Untuk menjawab semua itu, mari kita simak keterangan dari Al-Qur’an dan Al-Hadits, agar kita tidak semakin jauh dari bimbingan Allah dan Rasul-Nya.
Dahsyatnya Ujian Wanita dan Dunia
Penulis : Al-Ustadz Abul Abbas Muhammad Ihsan
Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan kekuasaan dan hikmah-Nya yang sempurna menjadikan dunia serta perhiasannya yang fana ini sebagai medan ujian dan cobaan. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا
“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (Al-Mulk: 2)
الم. أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا ءَامَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ
“Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ‘Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi?” (Al-’Ankabut: 1-2)
Selanjutnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan rahmah-Nya memberitahukan kepada hamba-hamba-Nya hikmah dihadapkannya mereka kepada berbagai ujian dan cobaan itu. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ
“Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (Al-’Ankabut: 3)
Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullahu menyatakan dalam tafsirnya: “Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan tentang hikmah-Nya yang sempurna. Di mana sifat hikmah-Nya mengharuskan setiap orang yang mengaku beriman tidak akan dibiarkan begitu saja dengan pengakuannya. Pasti dia akan dihadapkan pada berbagai ujian dan cobaan. Bila tidak demikian, niscaya tidak bisa terbedakan antara orang yang benar dan jujur dengan orang yang dusta. Tidak bisa terbedakan pula antara orang yang berbuat kebenaran dengan orang yang berbuat kebatilan. Sudah merupakan ketentuan Allah Subhanahu wa Ta’ala, Dia menguji (manusia) dengan kelapangan dan kesempitan, kemudahan dan kesulitan, kesenangan dan kesedihan, serta kekayaan dan kemiskinan.”
Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullahu menyatakan dalam tafsirnya: “(Agar terbedakan) orang-orang yang benar dalam pengakuannya dari orang-orang yang dusta dalam ucapan dan pengakuannya. Sedangkan Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha mengetahui apa yang telah terjadi, yang sedang terjadi, dan yang akan terjadi. Allah Subhanahu wa Ta’ala juga mengetahui cara terjadinya sesuatu bila hal itu terjadi. Hal ini adalah prinsip yang telah disepakati (ijma’) oleh para imam Ahlus Sunnah wal Jamaah.”
Allah Subhanahu wa Ta’ala bahkan telah mengabarkan:
وَجَعَلْنَا بَعْضَكُمْ لِبَعْضٍ فِتْنَةً أَتَصْبِرُونَ وَكَانَ رَبُّكَ بَصِيرًا
“Dan Kami jadikan sebagian kamu cobaan bagi sebagian yang lain. Maukah kamu bersabar? Dan adalah Rabbmu Maha melihat.” (Al-Furqan: 20)
Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullahu menerangkan maksud ayat di atas dalam tafsirnya: “Seorang rasul adalah ujian bagi umatnya, yang akan memisahkan orang-orang yang taat dengan orang-orang yang durhaka terhadap rasul tersebut. Maka Kami jadikan para rasul sebagai ujian dan cobaan untuk mendakwahi kaum mereka. Seorang yang kaya adalah ujian bagi yang miskin. Demikian pula sebaliknya. Orang miskin adalah ujian bagi orang kaya. Semua jenis tingkatan makhluk (merupakan ujian dan cobaan bagi yang sebaliknya) di dunia ini. Dunia yang fana ini adalah medan yang penuh ujian dan cobaan.”
Dari penjelasan Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullahu di atas, kita dapatkan faedah bahwa: seorang istri adalah ujian bagi suaminya, anak adalah ujian bagi kedua orangtuanya, pembantu adalah ujian bagi tuannya, tetangga adalah ujian bagi tetangga yang lainnya, rakyat adalah ujian bagi pemerintahnya, dan sebagainya. Begitu pula sebaliknya.
Selanjutnya, Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullahu menerangkan: “Tujuannya adalah apakah kalian mau bersabar, kemudian menegakkan berbagai perkara yang diwajibkan atas kalian, sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membalas amalan kebaikan kalian. Ataukah kalian tidak mau bersabar yang dengan sebab itu kalian berhak mendapatkan kemurkaan (Allah Subhanahu wa Ta’ala) dan siksaan?! Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (Ali ‘Imran: 14)
Allah Subhanahu wa Ta’ala memberitahukan bahwa kecintaan terhadap kenikmatan dan kesenangan dunia akan ditampakkan indah dan menarik di mata manusia. Allah Subhanahu wa Ta’ala juga menyebutkan hal-hal ini secara khusus karena hal-hal tersebut adalah ujian yang paling dahsyat, sedangkan hal-hal lain hanyalah mengikuti. Maka, tatkala hal-hal ini ditampakkan indah dan menarik kepada mereka, disertai faktor-faktor yang menguatkannya, maka jiwa-jiwa mereka akan bergantung dengannya. Hati-hati mereka akan cenderung kepadanya.” (Taisir Al-Karimirrahman, hal. 124)
Fitnah (godaan) wanita
Betapa banyak lelaki yang menyimpang dari jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala karena godaan wanita. Betapa banyak pula seorang suami terjatuh dalam berbagai kezaliman dan kemaksiatan disebabkan istrinya. Sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala memperingatkan hamba-hamba-Nya yang beriman dengan firman-Nya:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ
“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka.” (At-Taghabun: 14)
Al-Imam Mujahid rahimahullahu berkata: “Yakni akan menyeret orangtua atau suaminya untuk memutuskan tali silaturahim atau berbuat maksiat kepada Rabbnya, maka karena kecintaan kepadanya, suami atau orangtuanya tidak bisa kecuali menaatinya (anak atau istri tersebut).”
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
اسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا فَإِنَّ الْمَرْأَةَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلْعٍ وَإِنَّ أَعْوَجَ مَا فِي الضِّلْعِ أَعْلَاهُ، فَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيْمُهُ كَسَرْتَهُ وَإِنْ تَرَكْتَهُ لَمْ يَزَلْ أَعْوَجَ، فَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ
“Berniat dan berbuat baiklah kalian kepada para wanita. Karena seorang wanita itu diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok, dan sesungguhnya rusuk yang paling bengkok adalah yang paling atas. Maka apabila kamu berusaha dengan keras meluruskannya, niscaya kamu akan mematahkannya. Sedangkan bila kamu membiarkannya niscaya akan tetap bengkok. Maka berwasiatlah kalian kepada para istri (dengan wasiat yang baik).” (Muttafaqun ‘alaih dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:
مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً هِيَ أَضَرُّ عَلَى الرِّجَالِ مِنََ النِّسَاءِ
“Tidaklah aku tinggalkan setelahku fitnah (ujian/godaan) yang lebih dahsyat bagi para lelaki selain fitnah wanita.” (Muttafaqun ‘alaih dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma)
Al-Mubarakfuri rahimahullahu berkata: “(Sisi berbahayanya fitnah wanita bagi lelaki) adalah karena keumuman tabiat seorang lelaki adalah sangat mencintai wanita. Bahkan banyak terjadi perkara yang haram (zina, perselingkuhan, pacaran, dan pemerkosaan, yang dipicu [daya tarik] wanita). Bahkan banyak pula terjadi permusuhan dan peperangan disebabkan wanita. Minimalnya, wanita atau istri bisa menyebabkan seorang suami atau seorang lelaki ambisius terhadap dunia. Maka ujian apalagi yang lebih dahsyat darinya?
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyerupakan godaan wanita itu seperti setan, sebagaimana dalam hadits Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat seorang wanita. Kemudian beliau mendatangi Zainab istrinya, yang waktu itu sedang menyamak kulit hewan. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu menunaikan hajatnya (menggaulinya dalam rangka menyalurkan syahwatnya karena melihat wanita itu). Setelah itu, beliau keluar menuju para sahabat dan bersabda:
إِنَّ الْمَرْأَةَ تُقْبِلُ فِي صُورَةِ شَيْطَانٍ وَتُدْبِرُ فِي صُورَةِ شَيْطَانٍ، فَإِذَا أَبْصَرَ أَحَدُكُمُ امْرَأَةً فَلْيَأْتِ أَهْلَهُ فَإِنَّ ذَلِكَ يَرُدُّ مَا فِي نَفْسِهِ
“Sesungguhnya wanita itu datang dalam bentuk setan dan berlalu dalam bentuk setan pula. Apabila salah seorang kalian melihat seorang wanita (dan bangkit syahwatnya) maka hendaknya dia mendatangi istrinya (menggaulinya), karena hal itu akan mengembalikan apa yang ada pada dirinya (meredakan syahwatnya).” (HR. Muslim)
Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu berkata dalam Syarah Shahih Muslim (8/187): “Para ulama mengatakan, makna hadits itu adalah bahwa penampilan wanita membangkitkan syahwat dan mengajak kepada fitnah. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjadikan adanya kecenderungan atau kecintaan kepada wanita dalam hati para lelaki, merasa nikmat melihat kecantikannya berikut segala sesuatu yang terkait dengannya. Sehingga seorang wanita ada sisi keserupaan dengan setan dalam hal mengajak kepada kejelekan atau kemaksiatan melalui was-was serta ditampakkan bagus dan indahnya kemaksiatan itu kepadanya.
Dapat diambil pula faedah hukum dari hadits ini bahwa sepantasnya seorang wanita tidak keluar dari rumahnya, (berada) di antara lelaki, kecuali karena sebuah keperluan (darurat) yang mengharuskan dia keluar.
Oleh karena itulah, Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang segala sesuatu yang akan menyebabkan hamba-hamba-Nya terfitnah dengan wanita, seperti memandang, berkhalwat (berduaan dengan wanita yang bukan mahram), ikhtilath (campur-baur lelaki dan perempuan yang bukan mahram). Bahkan mendengarkan suara wanita yang bisa membangkitkan syahwat pun dilarang.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ
Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya.” Yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat. (An-Nur: 30)
فَلاَ تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا مَعْرُوفًا
“Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (Al-Ahzab: 32)
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا
“Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (Al-Isra’: 32)
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لَا يَخْلُوَنَّ أَحَدُكُمْ بِامْرَأَةٍ إِلاَّ مَعَ ذِي مَحْرَمٍ
“Janganlah salah seorang kalian berduaan dengan seorang wanita kecuali bersama mahramnya.” (Muttafaqun ‘alaih)
Dari ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِيَّاكُمْ وَالدُّخُولَ عَلَى النِّسَاءِ. فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ الْأَنْصَارِ: أَفَرَأَيْتَ الْحَمْوَ؟ قَالَ: الْحَمْوُ الْمَوْتُ
“Jauhi oleh kalian masuk kepada para wanita.” Seorang lelaki Anshar bertanya: “Bagaimana pendapat anda tentang ipar?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Ipar itu berarti kebinasaan (banyak terjadi zina antara seorang lelaki dengan iparnya).” (Muttafaqun ‘alaih)
Agar hamba-hamba-Nya selamat dari godaan wanita, Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk menikah dengan wanita shalihah, yang akan saling membantu dengan dirinya untuk menyempurnakan keimanan dan ketakwaannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَلَا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّى يُؤْمِنَّ
“Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman.” (Al-Baqarah: 221)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ: لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَلِجَمَالِهَا وَلِدِيْنِهَا، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ
“Seorang wanita itu dinikahi karena empat perkara: karena hartanya, kebaikan nasabnya, kecantikannya, dan agamanya. Maka pilihlah wanita yang bagus agamanya, niscaya engkau akan beruntung.” (Muttafaqun ‘alaih dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)
Godaan dunia dan harta
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ، وَإِنَّ اللهُ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ، فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِي النِّسَاءِ
“Sesungguhnya dunia itu manis (rasanya) dan hijau (menyenangkan dilihat). Dan sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala menggantikan sebagian kalian dengan sebagian yang lain di dalamnya, maka Dia akan melihat bagaimana kalian beramal dengan dunia tersebut. Oleh karena itu, takutlah kalian terhadap godaan dunia (yang menggelincirkan kalian dari jalan-Nya) dan takutlah kalian dari godaan wanita, karena ujian yang pertama kali menimpa Bani Israil adalah godaan wanita.” (HR. Muslim dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu)
إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً، وَفِتْنَةُ أُمَّتِي الْمَالُ
“Sesungguhnya setiap umat itu akan dihadapkan dengan ujian (yang terbesar). Dan termasuk ujian yang terbesar yang menimpa umatku adalah harta.” (HR. At-Tirmidzi dari ‘Iyadh bin Himar radhiyallahu ‘anhu)
Harta dan dunia bukanlah tolok ukur seseorang itu dimuliakan atau dihinakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana firman-Nya:
فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ. وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ
Adapun manusia apabila Rabbnya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata: “Rabbku telah memuliakanku.” Adapun bila Rabbnya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata: “Rabbku menghinakanku.” (Al-Fajr: 15-16)
Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu berkata: “Maksud ayat-ayat tersebut adalah tidak setiap orang yang Aku (Allah Subhanahu wa Ta’ala) beri kedudukan dan limpahan nikmat di dunia berarti Aku limpahkan keridhaan-Ku kepadanya. Hal itu hanyalah sebuah ujian dan cobaan dari-Ku untuknya. Dan tidaklah setiap orang yang Aku sempitkan rezekinya, Aku beri sekadar kebutuhan hidupnya tanpa ada kelebihan, berarti Aku menghinakannya. Namun Aku menguji hamba-Ku dengan kenikmatan-kenikmatan sebagaimana Aku mengujinya dengan berbagai musibah.” (Ijtima’ul Juyusy, hal. 9)
Sehingga, dunia dan harta bisa menyebabkan pemiliknya selamat serta mulia di dunia dan akhirat, apabila dia mendapatkannya dengan cara yang diperbolehkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia juga mensyukurinya serta menunaikan hak-haknya sehingga tidak diperbudak oleh dunia dan harta tersebut. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
لَا حَسَدَ إِلَّا فِي اثْنَتَيْنِ: رَجُلٌ آتَاهُ اللهُ مَالًا فَسَلَّطَهُ عَلَى هَلَكَتِهِ فِي الْحَقِّ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللهُ حِكْمَةً فَهُوَ يَقْضِي بِهَا وَيُعَلِّمُهَا
“Tidak boleh iri kecuali kepada dua golongan: Orang yang Allah Subhanahu wa Ta’ala karuniakan harta kepadanya lalu dia infakkan di jalan yang benar, serta orang yang Allah Subhanahu wa Ta’ala karuniakan ilmu kepadanya lalu dia menunaikan konsekuensinya (mengamalkannya) dan mengajarkannya.” (Muttafaqun ‘alaih dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu)
Dan demikianlah keadaan para sahabat dahulu. Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu menceritakan: Beberapa orang sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
يَا رَسُولَ اللهِ، ذَهَبَ أَهْلُ الدُّثُورِ بِالْأُجُورِ، يُصَلُّونَ كَمَا نُصَلِّي وَيَصُومُونَ كَمَا نَصُومُ وَيَتَصَدَّقُونَ بِفُضُولِ أَمْوَالِهِمْ
“Wahai Rasulullah, orang-orang kaya telah mendahului kami untuk mendapatkan pahala. Mereka shalat sebagaimana kami shalat. Mereka juga berpuasa sebagaimana kami berpuasa. Namun mereka bersedekah dengan kelebihan harta mereka.” (HR. Muslim)
Sebaliknya, orang yang tertipu dengan harta dan dunia sehingga dia diperbudak olehnya, dia akan celaka dan binasa di dunia maupun akhirat. Na’udzu billah min dzalik (Kita berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari hal tersebut). Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memperingatkan tentang hakikat harta dan dunia itu dalam firman-Nya:
وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
“Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (Ali Imran: 185)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَا الْفَقْرُ أَخْشَى عَلَيْكُمْ وَلَكِنِّي أَخْشَى أَنْ تُبْسَطَ عَلَيْكُمُ الدُّنْيَا كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا فَتُهْلِكُكُمْ كَمَا أَهْلَكَتْهُمْ
“Bukanlah kefakiran yang aku khawatirkan atas kalian. Namun aku khawatir akan dibentangkan dunia kepada kalian sebagaimana telah dibentangkan kepada orang-orang sebelum kalian, lalu kalian berlomba-lomba mendapatkannya sebagaimana orang-orang yang sebelum kalian, maka dunia itu akan membinasakan kalian sebagaimana dia telah membinasakan orang-orang yang sebelum kalian.” (Muttafaqun ‘alaih dari ‘Amr bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu)
تَعِسَ عَبْدُ الدِّيْنَارِ وَالدِّرْهَمِ وَالْقَطِيفَةِ وَالْخَمِيصَةِ، إِنْ أُعْطِيَ رَضِي وَإِنْ لَمْ يُعْطَ لَمْ يَرْضَ
“Celaka hamba dinar, dirham, qathifah, dan khamishah (keduanya adalah jenis pakaian). Bila dia diberi maka dia ridha. Namun bila tidak diberi dia tidak ridha.” (HR. Al-Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)
Allah Subhanahu wa Ta’ala menceritakan kejahatan orang yang berilmu dan ahli ibadah dari kalangan ahli kitab yang telah diperbudak oleh harta dan dunia dalam firman-Nya:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِنَّ كَثِيرًا مِنَ الْأَحْبَارِ وَالرُّهْبَانِ لَيَأْكُلُونَ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللهِ
“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan yang batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah.” (At-Taubah: 34)
Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullahu menerangkan dalam tafsirnya: “Yang dimaksud ayat tersebut adalah peringatan dari para ulama su’ (orang yang berilmu tapi jahat) dan ahli ibadah yang sesat. Sebagaimana ucapan Suyfan ibnu Uyainah rahimahullahu: ‘Barangsiapa yang jahat dari kalangan orang yang berilmu di antara kita, berarti ada keserupaan dengan para pemuka Yahudi. Sedangkan barangsiapa yang sesat dari kalangan ahli ibadah kita, berarti ada keserupaan dengan para pendeta Nasrani. Di mana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadits yang shahih: ‘Sungguh-sungguh ada di antara kalian perbuatan-perbuatan generasi sebelum kalian. Seperti bulu anak panah menyerupai bulu anak panah lainnya.’ Para sahabat g bertanya: ‘Apakah mereka orang Yahudi dan Nasrani?’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: ‘Siapa lagi?’
Dalam riwayat yang lain mereka bertanya: ‘Apakah mereka Persia dan Romawi?’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: ‘Siapa lagi kalau bukan mereka?’
Intinya adalah peringatan dari tasyabbuh (menyerupai) ucapan maupun perbuatan mereka. Oleh karena itulah Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
لَيَأْكُلُونَ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللهِ
“(Mereka) benar-benar memakan harta orang dengan jalan yang batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah.” (At-Taubah: 34)
Hal itu karena mereka memakan harta orang lain dengan kedok agama. Mereka mendapat keuntungan dan kedudukan di sisi umat, sebagaimana para pendeta Yahudi dan Nasrani mendapatkan hal-hal tersebut dari umatnya di masa jahiliah. Hingga ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus Rasul-Nya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka pun tetap berkeras di atas kejahatan, kesesatan, kekafiran, dan permusuhannya, disebabkan ambisi mereka terhadap kedudukan tersebut. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala memadamkan kesesatan itu dengan cahaya kenabian sekaligus menggantikan kedudukan mereka degan kehinaan serta kerendahan. Dan mereka akan kembali menghadap Allah Subhanahu wa Ta’ala membawa kemurkaan-Nya.”
Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam hafizhahullah berkata: “Sungguh, ambisi terhadap dunia termasuk sebab yang menimbulkan berbagai macam fitnah pada generasi pertama. Telah terdapat riwayat yang shahih dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, dalam Masa’il Al-Imam Ahmad (2/171), bahwa beliau radhiyallahu ‘anhuma berkata: Seorang dari Anshar datang kepadaku pada masa khalifah Utsman radhiyallahu ‘anhu. Dia berbicara denganku. Tiba-tiba dia menyuruhku untuk mencela Utsman radhiyallahu ‘anhu. Maka aku katakan: ‘Sungguh, demi Allah, kita tidak mengetahui bahwa Utsman membunuh suatu jiwa tanpa alasan yang benar. Dia juga tidak pernah melakukan dosa besar (zina) sedikitpun. Namun inti masalahnya adalah harta. Apabila dia memberikan harta tersebut kepadamu, niscaya engkau akan ridha. Sedangkan bila dia memberikan harta kepada saudara/kerabatnya, maka kalian marah.”
Selanjutnya, Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam hafizhahullah berkata: “Bila kalian arahkan pandangan ke tengah-tengah kaum muslimin, baik di zaman yang telah lalu maupun sekarang, niscaya engkau akan saksikan kebanyakan orang yang tergelincir dari jalan ini (al-haq) adalah karena tamak terhadap dunia dan kedudukan. Maka barangsiapa yang membuka pintu ini untuk dirinya niscaya dia akan berbolak-balik. Berubah-ubah prinsip agamanya dan akan menganggap remeh/ringan urusan agamanya. (Bidayatul Inhiraf, hal. 141)
Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu berkata: “Setiap orang dari kalangan orang yang berilmu yang lebih memilih dunia dan berambisi untuk mendapatkannya, pasti dia akan berdusta atas nama Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam fatwanya, dalam hukum yang dia tetapkan, berita-berita yang dia sebarkan, serta konsekuensi-konsekuensi yang dia nyatakan. Karena hukum-hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala mayoritasnya menyelisihi ambisi manusia. Lebih-lebih ambisi orang yang tamak terhadap kedudukan dan orang yang diperbudak hawa nafsunya. Ambisi mereka tidak akan bisa mereka dapatkan dengan sempurna kecuali dengan menyelisihi kebenaran dan sering menolaknya. Apabila seorang yang berilmu atau hakim berambisi terhadap jabatan dan mempertuhankan hawa nafsunya, maka ambisi tersebut tidak akan didapatkan dengan sempurna kecuali dengan menolak kebenaran…
Mereka pasti akan membuat-buat perkara yang baru dalam agama, disertai kejahatan-kejahatan dalam bermuamalah. Maka terkumpullah pada diri mereka dua perkara tersebut (kedustaan dan kejahatan).
Sungguh, mengikuti hawa nafsu itu akan membutakan hati, sehingga tidak lagi bisa membedakan antara sunnah dengan bid’ah. Bahkan bisa terbalik, dia lihat yang bid’ah sebagai sunnah dan yang sunnah sebagai bid’ah. Inilah penyakit para ulama bila mereka lebih memilih dunia dan diperbudak oleh hawa nafsunya.” (Al-Fawaid, hal 243-244)
اللَهُّمَ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ
“Ya Allah, tampakkanlah kepada kami kebenaran itu sebagai kebenaran dan karuniakanlah kami untuk mengikutinya. Dan tampakkanlah kebatilan itu sebagai kebatilan dan karuniakanlah kami untuk menjauhinya.” Wallahu ‘alam bish-shawab.
Sumber : http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=932
AL-QUR’AN PENYEJUK QOLBU
Penulis: Al Ustadz Qomar Su’aidi, LC
Ketahuilah, Al-Qur’an itu mengandung obat segala penyakit qolbu (hati). Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : “Wahai manusia, telah datang kepada kalian mauidzhoh (pelajaran) dari Rabb kalian, dan penyembuh apa yang ada dalam hati.” (QS. Yunus : 57).
“ Dan kami turunkan dari Al-Qur’an ini sesuatu yang merupakan penyembuh dan rahmat bagi orang-orang mu’min.” (QS. Al-Isro’ : 82).
Segala penyakit qolbu itu bermuara pada syubhat (kesamaran pemahaman, ed.) dan syahwat (hawa nafsu), dan Al-Qur’an adalah dapat menyembuhkan keduanya.
Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah mengatakan bahwa Al-Qur’an mencakup obat dan rahmat. Dan itu bukan untuk setiap orang, tetapi hanya untuk orang-orang yang beriman (mu’min) yang beriman dengan Al-Qur’an, membenarkan ayat-ayat-Nya dan mengetahui makna-maknanya.
Adapun orang-orang dzalim yang tidak membenarkan atau mengamalkannya, maka ayat-ayat Al-Qur’an itu tidak menambah kepada mereka kecuali kerugian….Maka penyembuhan Al-Qur’an itu mencakup penyembuhan Qolbu dari syubhat, kebodohan, pemikiran-pemikiran yang rusak, penyelewengan dan maksud-maksud (keinginan) yang jelek….Juga mencakup kesembuhan jasmani dari berbagai penyakit.” (Lihat Tafsir As-Sa’di, hal. 465).
Penyakit Syubhat atau kerancuan pemikiran, keragu-raguan terhadap ajaran Islam, ataupun munculnya ajaran-ajaran sesat yang menyelinap dalam qolbu seseorang, tentu menimbulkan sakit walaupun terkadang tidak dirasakan oleh yang bersangkutan. Penyakit subhat ini akan mengakibatkan rusaknya ilmu, penilaian dan pemahaman, sehingga seseorang tidak dapat menilai sesuatu sesuai dengan hakekatnya.
Itu semua dapat disembuhkan dengan Al-Qur’an karena di dalamnya terdapat keterangan dan bukti-bukti nyata lagi pasti. Al-Qur’an menerangkan tauhid, menetapkan adanya hari kebangkitan, dan adanya kenabian, serta membantah pendapat-pendapat yang sesat dan ajaran yang menyimpang.
Al-Qur’an menerangkan semua itu dengan sebaik-baik keterangan, menjelaskannya dengan sejelas-jelas penjelasan, sangat bagus dan indah tiada yang menandingi, mudah di pahami dan di cerna oleh akal. Al-Qur’an merupakan obat hakiki untuk menyembuhkan penyakit-penyakit qolbu.
Sebagai contoh pengalaman seorang pakar filsafat yaitu Al-Fahrurrozi, yang telah mencapai tingkatan paling tinggi di masanya dalam ilmu filsafat. Namun filsafat ternyata sebuah penyakit ganas pada qolbu seseorang yang hanya menimbulkan keraguan pada I’tiqad (keyakinan) seorang muslim lalu menimbulkan kegelisahan pada qolbunya sebagaimana dikatakan bahwa “akhir keadaan ahli filsafat adalah keraguan”.
Ia menyatakan dengan penuh kesadaran : “Saya perhatikan teori-teori ilmu kalam dan metodologi filsafat, saya nilai tidak mampu mengobati orang sakit dan menghilangkan dahaga. Saya melihat jalan yang paling dekat adalah jalan Al-Qur’an ….Dan barang siapa yang mencoba seperti percobaanku, maka ia akan mengetahui sebagaimana yang aku ketahui.”
Penyembuhan dengan Al-Qur’an tergantung pada pemahaman terhadap Al-Qur’an itu sendiri dan pengetahuan terhadap makna-maknanya. Orang yang Allah beri pemahaman, mata hatinya akan melihat yang haq dan yang bathil dengan begitu jelas sebagaimana ia melihat perbedaan siang dan malam.
Adapun penyakit qalbu berupa syahwat dan keinginan hawa nafsu, niat-niat yang rusak, iri, dengki, tamak dan sebagainya. Al-Qur’anpun penuh dengan obat penyakit ini karena di dalamnya terkandung mutiara-mutiara hikmah, nasehat-nasehat yang indah, memberi semangat untuk kebaikan, mengancam dari perbuatan jelek dan mengajak untuk juhud. Al-Qur’an memberikan perumpamaan dan kisah-kisah yang menyiratkan berbagai ibrah (pelajaran) sehingga membuat qolbu mencintai kebenaran dan membenci kesesatan, selalu memiliki keinginan kepada yang baik dan kembali kepada fitrahnya yang suci.
Dengan qolbu yang seperti itu, maka perbuatannya menjadi baik dan dia tidak menerima kecuali yang haq, bagaikan seorang bayi, tidak menerima makanan selain susu. Qolbunya mendapat gizi keimanan dari Al-Qur’an, sehingga menguatkan dan menumbuhkannya, menyenangkan dan membuatnya giat, sehingga menjadikannya semakin kokoh.
Qolbu membutuhkan segala sesuatu yang memberinya manfaat dan melindunginya dari mudharat (bahaya) sebagaimana jasmani membutuhkan segala sesuatu yang memberinya manfaat dan melindunginya dari mudharat. Dengan itu ia akan berkembang menuju kesempurnaan. Tiada jalan menuju kepada kesempurnaan qolbu kecuali dengan Al-Qur’an. Kalaupun ada jalan yang lain, maka itu sangat sedikit dan tidak akan mencapai kesempurnaan.
Wallahu a’lam.
Diringkas dari tulisan Al-Imam Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah dalam kitab Ighotsatul Lahfan. Hal. 50-52. (Majalah Asy-Syari’ah/Vol.I/No. 04/Syawal 1424 H).
Sumber : www.darussalaf.or.id
Khuthbah Terakhir ‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz rahimahullah
Yang kemudian beliau menangis, dan tidak pernah beliau berkhuthbah lagi setelah itu sampai wafatnya.
Wahai sekalian manusia,
“Sesungguhnya tidaklah kalian diciptakan dengan sia-sia, dan kalian tidak akan dibiarkan begitu saja tanpa diperintah dan dilarang. Dan sesungguhnya bagi kalian ada perjanjian yang telah Allah ta’ala turunkan di dalamnya sebagai pemutus perkara dan pembeda di antara kalian. Sungguh telah celaka dan merugi seseorang yang telah keluar dari rahmat Allah yang (padahal) rahmat-Nya itu meliputi segala sesuatu, dan telah celaka dan merugi pula seseorang yang diharamkan baginya al-jannah (surga) yang (padahal) jannah Allah itu seluas langit dan bumi.
Ketahuilah bahwasanya keamanan pada hari esok (hari akhir) adalah bagi orang yang menjaga diri dari adzab Allah dan takut kepada-Nya serta orang yang mau menukar sesuatu yang fana (dunia) dengan sesuatu yang kekal (akhirat), yang mau menukar sesuatu yang sedikit dengan sesuatu yang banyak, dan yang mengganti rasa takut (dengan sebab kemaksiatan) dengan keamanan (menjalankan ketaatan). Tidakkah kalian melihat bahwasanya kalian berada di jalan orang-orang yang akan binasa? Dan kalian akan digantikan oleh orang-orang lain setelah kalian dan seterusnya sampai kalian kembali kepada sebaik-baik pemberi warisan (Allah subhanahu wata’ala)?
Setiap hari kalian berjalan pagi dan petang menuju kepada Allah subhanahu wata’ala. Sebagiannya telah datang kepadanya keputusan dari Allah dan sebagian yang lain masih menunggu keputusan dari-Nya. Kalian akan lelah untuk terus menempuh jalan yang mendaki, kemudian kalian berdo’a kepada-Nya tanpa sandaran dan juga tanpa aturan, berpisah dengan orang-orang tercinta, terputuslah hubungan kekasih, dan kemudian menetap dalam kubur untuk menuju hari perhitungan, kini dia tergadai dengan amalannya, dia butuh terhadap sesuatu yang akan datang dan merasa cukup dengan yang dia tinggalkan.
Maka bertaqwalah kepada Allah sebelum datangnya kematian dan ketetapan dari Allah. Demi Allah, sesungguhnya aku mengatakan perkataan ini kepada kalian dan aku tidak mengetahui seorang pun yang dosanya lebih banyak daripada dosaku.
Dan tidaklah salah seorang dari kalian menyampaikan keperluannya kepadaku kecuali akan aku penuhi kebutuhannya tersebut sebatas kemampuanku. Dan tidaklah salah seorang di antara kalian yang mencukupkan diri dengan apa yang ada pada kami kecuali aku menginginkannya sebagai bagian dari keringat dan dagingku sampai kemudian menjadi sama antara kehidupan kami dengan kehidupan dia.
Dan demi Allah, kalau seandainya aku menginginkan selain hal ini dari kemewahan dan kenikmatan duniawi, maka lisan ini akan merendahkannya dengan sebab-sebab yang telah diketahui. Akan tetapi telah berlaku ketetapan dari Allah dalam kitab-Nya dan Sunnah yang adil, yang membimbing untuk taat kepada-Nya dan melarang dari bermaksiat kepada-Nya.”
Kemudian beliau mengangkat ujung selendangnya dan menangis terisak-isak sampai pingsan yang menyebabkan orang-orang di sekitarnya pun menangis. Kemudian beliau turun dari mimbar dan tidak pernah beliau berkhuthbah lagi setelah itu sampai wafat rahimahullah.
Diterjemahkan dari: http://sahab.net/forums/showthread.php?t=362983
Sumber : http://www.assalafy.org/mahad/?p=478#more-478
Semangat Salaf dalam Menuntut Ilmu
Muhadharah Asy-Syaikh ‘Abdurrahman bin ‘Umar Al-‘Adani hafizhahullah.
إن الحمد لله نحمده تعالى ونستعينه ونستغفره ، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا ، من يهديه الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له ، واشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، واشهد أن محمد عبده ورسوله
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ - آل عمران / 102 -
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا - النساء / 1 -
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا - الأحزاب / 70، 71 -
أما بعد ، فان اصدق الحديث كتاب الله تعالى ، وخير الهدي هدي محمد صلى الله عليه وعلى آله وسلم ، وشر الأمور محدثاتها وكل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة وكل ضلالة في النار
Wahai saudaraku di jalan Allah Ta’ala,
Pertama kita hendaknya memuji Allah ‘Azza wa Jalla yang telah memudahkan kita untuk berkunjung kepada saudara kami -hafizhahumullah- dari para masyayikh, penuntut ilmu dan ikhwah secara umum di ma’had yang penuh barakah ini. Dan kita memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar menjadikan kita dan ikhwah semuanya termasuk orang saling mengunjungi saudaranya karena Allah Ta’ala, berhubungan karenaNya dan saling mencintai karenaNya Ta’ala. Maka ini merupaka nikmat yang sangat besar dan agung yang Allah Ta’ala anugerahkan kepada umat islam dan kepada ahlus sunnah, bahwa tidaklah mereka saling berhubungan dan saling mencintai kecuali karena Allah Ta’ala.
Dan Nabi Shallallahu ‘alihi wa salam bersabda sebagaimana diriwayatkan An-Nasa’i dan Abu Ya’la dari Abu Hurairah -radhiyallahu ‘anhu-;
إن من عباد الله عبادًا يغبطهم الأنبياء والشهداء ، ليسوا بأنبياء ولا شهداء ، قالوا صفهم لنا يا رسول الله لعلنا نحبهم ، قال : هم قوم تحابوا من غير أرحام ولا انساب ، وجوههم من نور على منابر من نور لا يخافون يوم يخاف الناس ولا يحزنون يوم يحزن الناس ، ثم تلى النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم قول الله عز وجل : أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ الَّذِينَ آَمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ. - يونس / 62، 63 -
“Sesungguhnya dari hamba Allah ada hamba-hamba yang ingin keadaan mereka seperti para nabi dan syuhada’, dan mereka bukan para nabi dan syuhada’. Mereka berkata: “Sebutkan cirri-cirinya kepada kami wahai Rasulullah”. Beliau berkata: “Mereka adalah suatu kaum yang saling mencintai bukan karena hubungan rahim bukan pula nasab, wajah-wajah mereka dari cahaya di atas mimbar-mimbar dari cahaya, mereka tidak takut pada hari yang manusia merasa takut, mereka tidak sedih pada hari yang manusia merasa sedih”. Kemudian beliau membaca firman Allah Ta’ala: “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada ketakutan atas mereka dan tidak pula mereka bersedih, mereka adalah orang-orang yang beriman dan mereka bertakwa.”
Kemudian kita juga berterima kasih kepada Fadhilah Asy-Syaikh Abu Nashr Muhammad Al-Imam -hafizhahullah ta’ala- semoga Allah Ta’ala memberikan barakah pada beliau, pada ilmunya, perjuangannya, keluarganya dan anak-anaknya.
Dan kita memohon kepada Allah -tabaraka wa ta’ala- agar menjadikan kita dan sekalian ikhwah kita termasuk penolong al-haq dan penyeru kepada petunjuk. Dan kita berterima kasih kepada beliau akan kunjungan beliau saudara beliau dan anak didik beliau. Maka kita memohon kepada Allah Ta’ala agar membalas beliau dengan sebaik-baik balasan.
Wahai sekalian ikhwah fillah,
Pada kesempatan ini kami mengingatkan diri-diri kami dan segenap ikhwah dengan besarnya nikmat Allah ‘Azza wa Jalla kepada kita, yang mana Allah telah menunjuki kita kepada agamaNya dan memberikat kita taufiq kepada sunnah Rasulillah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa salam. Maka ini merupakan seutama-utama nikmat yang dianugerahkan Allah Ta’ala kepada kepada hamba-hambaNya yang muslim, yaitu menunjuki mereka agamaNya dan menjadikan mereka termasuk pengikut RasulNya Muhammad Shallalllahu ‘alaihi wa salam. Allah Ta’ala menutup nikmat ini dari sekian banyak orang dan dari jutaan manusia, mereka tidak mendapatkan taufiq untuk merengkuhnya dan tidak menunjuki mereka untuk meniti jalannya, kemudia Allah Ta’ala memilihmu dan mengutamakanmu sehingga engkau menjadi hambaNya yang shalih. Dan Allah Ta’ala mengingatkan kita dalam kitabNya Al-Karim dengan kebaikan dan keutamaan ini, Allah Ta’ala berfirman;
وَاذْكُرُوا إِذْ أَنْتُمْ قَلِيلٌ مُسْتَضْعَفُونَ فِي الْأَرْضِ تَخَافُونَ أَنْ يَتَخَطَّفَكُمُ النَّاسُ فَآَوَاكُمْ وَأَيَّدَكُمْ بِنَصْرِهِ وَرَزَقَكُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ. - الأنفال / 26 -
“Dan ingatlah disaat kalian berjumlah sedikit lagi lemah di muka bumi, kalian takut akan disambar oleh manusia lalu Allah melindungi kalian dan mengkokohkan kalian dengan pertolonganNya dan Allah merizkikan kepada kalian perkara-perkara yang baik agar kalian bersyukur.” Al-Anfal: 26
Qatadah -rahimahullah- berkata: “Dahulu masyarakat Arab ini merupakan masyarakat yang paling hina, paling sulit kehidupannya, paling lapar perutnya, paling telanjang kulitnya dan paling jelaas kesesatannya, siapa yang hidup dari mereka hidup dalam kekerasan, siapa yang mati dari mereka dihempaskan dalam neraka sampai Allah mendatangkan islam, maka Allah Ta’ala mengokohkan mereka dengannya di semua negeri, meluaskan rizki bagi mereka dengannya, dan Allah Ta’ala menjadikan mereka penguasa di atas sekalian manusia”.
Kita harus memuji Allah Ta’ala atas semua itu, umat ini tidak memiliki nilai dan harga di tengah-tengah umat yang lain. Maka ketika Allah Ta’ala menginginkan untuk meninggikan kalimatnya dan mengangkat kepalanya Allah Ta’ala mengutus kepadanya rasul yang membawa petunjuk yaitu Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasalam.
لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آَيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ. - آل عمران / 164 -
“Sungguh Allah telah menganugerahkan kepada kaum mukminin ketika Allah mengutus pada mereka seorang rasul dari diri mereka, yang membacakan kepada mereka ayat-ayatNya, membersihkan jiwa mereka dan mengajarkan kepada mereka al-kitab dan al-hikmah. Meskipun mereka sebelum itu benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” Ali-’Imran: 164
“Kesesatan yang nyata” berupa kesesatan kesyirikan, khurafat dan kebid’ahan. Maka Allah Ta’ala menyelamatkan mereka dengan nabiNya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa salam. Allah Ta’ala menyatukan mereka dengannya setelah terjadi perpecahan memuliakan mereka dengannya setelah kehinaan, mengkayakan mereka setelah kemiskinan dan menunjuki mereka dengannya setelah tersungkur dalam kesesatan, kekufuran dan penyimpangan. Maka ini adalah nikmat yang besar yang Allah Ta’ala anugerahkan kepada kita. Tidaklah berlangsung kecuali beberapa saat dan sedikit tahun tiba-tiba dibukakan bagi umat ini negeri-negeri di bagian timur dan barat. Jadilah ia sebaik-baik umat dan umat terkuat dan termulia yang sebelumnya mereka hanyalah penggembala onta, sapid an domba. Tidaklah ia kecuali saat yang sebentar jadilah mereka seperti yang kalian dengar. Apa sebabnya? Sebabnya adalah agama ini (islam), agama yang agung ini, agama yang penuh keutamaan dan kebaikan. Agama yang di saat salaf shalih berpegang teguh dengannya Allah Ta’ala memuliakan mereka dan mengangkat derajat dan kemuliannya.
Demikian pula umat yang sekarang jika mereka kembali kepada agama mereka dan berpegang teguh dengan kitab Rabbnya dan sunnah nabinya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa salam niscaya akan terwujud bagi mereka apa yang Rabb mereka janjikan dalam kitabNya dan lisan nabiNya. Allah Ta’ala mengabarkan dalam kitabNya bahwa masa depan adalah bagi agama ini dan kesudahan yang baik adalah bagi hambaNya yang bertakwa sebagaimana Allah Ta’ala firmankan;
هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ. - التوبة / 33 -
“Dialah yang mengutus rasulNya dengan petunjuk dan agama yang benar agar Dia menampakan agama ini atas sekalian agama, meskipun orang-orang musyrik itu tidak suka.” At-Taubah: 33
Demikian juga Allah Ta’ala berfirman;
وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ. - النور / 55 -
“Allah telah menjajikan bagi orang-orang yang beriman dari kalian dan beramal shalih bahwa Allah akan benar-benar menguasakan mereka di muka bumi sebagaimana Allah telah menguasakan umat sebelum mereka, dan Allah akan benarbenar mengkokohkan agama mereka yang Dia telah ridhai bagi mereka, dan Allah benar-benar akan menggantikan bagi mereka ketakukan menjadi rasa aman, (jika) mereka beribadah kepadaku dan tidak menyekutukan aku dengan sesuatupun. Dan siapa yang kufur setelah itu maka mereka itulah orang yang fasiq.” An-Nur: 55
Dan Allah Ta’ala berfirman;
وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ. - الحج / 40 -
“Dan Allah benar-benar akan menolong orang yang menolongNya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” Al-Haj: 40
Dan Allah Ta’ala berfirman;
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ. - محمد / 7 -
“Wahai oang-orang yang beriman, jika kalian menolong Allah maka Allah akan menolong kalian dan mengkokohkan kaki-kai kalian.” Muhammad: 7
Demikian pula janji yang ada dalam sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam. Disebutkan dalam Shahih Muslim dari hadits Tsauban radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda;
إِنَّ اللهَ زَوَى لِي الْأَرْضَ فَرَأَيْتُ مَشَارِقَهَا وَمَغَارِبَهَا وَإِنَّ أُمَّتِي سَيَبْلُغُ مُلْكُهَا مَا زُوِيَ لِي مِنْهَا
“Sesungguhnya Allah mengumpulkan bagiku bumi ini maka aku bias melihat bagian timur dan baratnya, dan sesungguhnya umatku akan sampai kekuasaannya pada apa yang dikumpulkan bagiku darinya.”
Kalau begitu, agama ini akan sampai kepada setiap tempat, memasuki setiap rumah sebagaimana dalam hadits Tamim Ad-Dary yang diriwayatkan oleh Ahmad dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam;
لَيَبْلُغَنَّ هَذَا الأَمْرُ مَا بَلَغَ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَلاَ يَتْرُكُ اللهُ بَيْتَ مَدَرٍ وَلاَ وَبَرٍ إِلاَّ أَدْخَلَهُ اللهُ هَذَا الدِّيْنَ بِعِزِّ عَزِيْزٍ أَوْ بِذُلِّ ذَلِيْلٍ عِزًّا يُعِزُّ اللهُ بِهِ الإِسْلَامَ وَذُلا يُذِلُّ اللهُ بِهِ الْكُفْرَ
“Benar-benar perkara ini akan sampai pada apa yang malam dan siang sampai padanya. Dan Allah tidak akan meninggalkan rumah perkotaan dan tidak pula pedesaan kecuali Allah memasukkan padanya agama ini dengan membawa kemuliaan bagi orang mulia dan membawa kehinaan bagi orang yang hina. Kemuliaan yang dengannya Allah memuliakan islam dan kehinaan yang dengannya Allah menghinakan kekufuran.”
Allah Ta’ala tidaklah meninggalkan sebuah rumahpun, sama saja dari tanah liat, atau dari batu, atau dari kayu, atau dari bulu onta kecuali Allah Ta’ala memasukkan padanya agama ini. Akan tetapi sebagaimana diketahui bahwa janji ini tidak akan terwujud kecuali jika umat ini kembali kepada agamanya, pemimpinnya, rakyatnya, masyarakatnya, keluarganya dan individunya. Allah Ta’ala tidaklah menghadiahkan pertolongan ini kecuali pada orang yang berhak menerimanya. Dan orang yang berhak atsanya adalah orang yang istiqamah di atas agamaNya dan syari’atNya, dan mereka berpegang teguh dengan kitabNya dan sunnah NabiNya Shallallahu ‘alaihi wa salam dalam seluruh perkara kehidupannya. Dalam perkara keyakinan, ibadah, mu’amalah, adab, akhlak, cara hidup, jalan hidup, dakawah dan juga dalam perkara pendidikan. Mereka itulah orang yang dicalonkan dan pantas mendapatkan pertolongan Allah Ta’ala.
Dan ini sebagaimana juga diketahui, tidak mungkin terwujud kecuali jika ditemukan pada umat ini ukuran yang cukup dari kalangan ulama yang rabbany, ulama yang dalam ilmunya pemilik pandangan yang lurus, pemilik sifat wara’, zuhud dan pengalaman, yang mampu membedakan antara kemaslahatan dan kerusakan, membedakan antara manfaat dan madharat. Jika ada orang seperti mereka itu yang membimbing umat berdasarkan al-kitab dan as-sunnah dan mengembalikan umat kepada agama yang agung ini dan bias membawa umat untuk berpegang teguh dengan sunnah nabi pilihan Shallallahu ‘alaihi wa salam, maka diharapkan setelah itu akan terwujud pada mereka pertolongan Allah Ta’ala yang Allah ta’ala janjikan bagi mereka dalam kitabNya dan lisan RasulNya Shallallahu ‘alaihi wa salam.
Dan ini sebagaimana diketahui juga menuntut dari umat ini adanya perhatian dan semangat, penyempatan dan pengorbanan dalam meraih ilmu yang bermanfaat ini, juga dalam menyebarkan ilmu yang bermanfaat ini ke tengah-tengah masyarakat kaum muslimin. Memenuhi kesempatan manusia dan pikira mereka. Yang mana dengannyaa umat akan membedakan mana petunjuk dan mana kesesatan, membedakan antara kesyirikan dan tauhid, antara sunnah dan bid’ah, antara manfaat dan madharat, antara penyimpangan dan petunjuk. Maka harus ada kadar ulama yang seperti ini ….
Bersambung edisi berikutnya
Wallahu a’lam bi shawab.
Ma’bar 20/04/1431 H, dikirim via e-mail oleh Al-Akh ‘Umar Al-Indunisy
Sumber : http://www.assalafy.org/mahad/?p=490#more-490
Nasehat Asy-Syaikh Shalih Abdul Aziz Al-Ghusn (hafizhahullah) untuk Ikhwah Salafiyyin Indonesia
Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala Rabbil ‘alamin, shalawat dan salam senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang merupakan sebaik-baik makhluk dan yang paling mulianya serta yang sangat indah akhlaknya diantara mereka, Allah Subhanahu wa Ta’ala menyanjung Beliau dengan firman-Nya:
“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berada diatas akhlak yang agung“.[Al Qalam: 4]
dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu“. [Ali ‘Imran: 159]
dan Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:
“maka maafkanlah mereka dan biarkanlah“. [Al Maa-idah: 13]
Ya Ma’syaral Ahibbah! Wahai sekalian yang aku cintai! Aku wasiatkan kalian dan diriku dengan taqwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala baik dalam keadaan yang nampak ataupun tersembunyi, dan taqwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yaitu mematuhi segala perintahNya dan menjauhi semua laranganNya. Taqwa merupakan wasiat dari Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk generasi awal dan terakhir.
Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Dan sungguh Kami telah mewasiatkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu; bertakwalah kalian kepada Allah“. [An Nisaa’: 131]
Maka ini adalah wasiat yang sangat agung yang mencakup hak-hak Allah Subhanahu wa Ta’ala dan hak-hak para hambaNya, agar Allah Subhanahu wa Ta’ala ditaati tidak dimaksiati, diingat tidak dilupakan, disyukuri tidak dikufuri. Dan taqwa merupakan wasiat dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana (yang Beliau sampaikan) didalam khutbatul wada’. Dan apabila Beliau mengangkat seseorang untuk dijadikan komando pasukan atau tentara Beliau mewasiatinya dengan taqwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana Beliau mewasiati Mu’adz radhiyallahu ‘anhu dengan ucapannya:
“Bertaqwalah kepada Allah dimanapun engkau berada“.
Dan hendaklah kalian senantiasa ikhlas serta memperbaiki niat dalam ilmu dan amal, karena sesungguhnya kalian diperintahkan akan hal itu sebagaimana didalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
“Dan tidaklah mereka itu diperintah kecuali agar beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan agama hanya kepadaNya“. [Al Bayyinah: 5]
dan:
Katakanlah: “Hanya Allah saja Yang aku ibadahi dengan mengikhlaskan agamaku kepadaNya.” [Az Zumar: 14]
Maka perbaikilah niat niscaya engkau akan termasuk dari ahlinya. Akupun wasiatkan kalian agar bersemangat terhadap al-ilmu an-nafi’ (ilmu yang bermanfaat), tadabburilah Al Qur`an, dan bersemangatlah untuk mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang Beliau sendiri telah memerintahkan akan hal itu dengan sabdanya:
“Hendaklah kalian mengikuti sunnahku dan sunnah para al-khulafa ar-rasyidin al-mahdiyin (yang telah diberi petunjuk oleh Allah) setelahku, berpegang teguhlah dengannya, dan gigitlah dengan gigi-gigi geraham, dan jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang baru didalam agama“.
Akupun wasiatkan kalian dengan sesuatu yang mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkannya didalam sabdanya:
“Janganlah kalian saling mendengki, dan janganlah saling membenci, dan janganlah saling bermusuhan, dan janganlah sebagian dari kalian melakukan penjualan diatas penjualan sebagian yang lain, dan hendaklah kalian menjadi hamba-hamba Allah yang bersaudara, seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, janganlah dia menzholiminya, dan jangan pula menelantarkannya, dan jangan pula merendahkannya, taqwa itu disini, dan Beliau berisyarat pada dadanya sebanyak tiga kali, cukuplah seseorang dikatakan jahat ketika ia merendahkannya saudaranya yang muslim, setiap muslim atas muslim lainnya haram darahnya, hartanya dan kehormatannya“.
Hadits yang mulia ini dimulai dengan peringatan dari perbuatan hasad (dengki), karena sesungguhnya hasad itu memakan kebaikan-kebaikan seperti halnya api melalap kayu bakar, dan jika engkau merasakan sesuatu dari sifat tersebut maka sembunyikanlah, janganlah engkau menampakkannya dan jangan pula membicarakannya, karena sungguh telah dikatakan bahwa:
“Tidak ada jasad yang terlepas dari hasad, akan tetapi orang yang hina akan menampakkannya sedangkan orang yang mulia akan menyembunyikannya“. Ya Ahibbati! Wahai sekalian yang aku cintai! Hendaklah kalian bersatu, saling mencintai, dan menyatukan kalimat, serta melaksanakan hak-hak yang mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan dan mewasiatkannya ketika Beliau bersabda:
“Hak seorang muslim atas muslim lainnya ada enam: Jika engkau bertemu dengannya maka ucapkanlah salam, Dan jika ia menyerumu maka penuhilah seruannya, Dan jika ia meminta nasehat darimu maka nasehatilah, Dan jika ia bersin lalu memuji Allah (yakni mengucapkan alhamdulillah) maka doakanlah, Dan jika ia sakit maka jenguklah, Dan jika ia wafat maka ikutilah (yakni mengantarkannya ke pekuburan)”,
[HR. Muslim.]
Hak-hak atas saudara tidaklah terbatas pada perkara-perkara yang disebutkan dalam hadits diatas, akan tetapi ini hanyalah merupakan contoh-contoh dan arahan-arahan yang mana kita harus memahami dan memperhatikannya. Akupun wasiatkan kalian agar menghormati para Ulama dan mengambil ilmu dari mereka, karena sesungguhnya Ulama adalah pewaris para Nabi, maka haruslah kita menghormati dan memuliakan mereka, karena sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengangkat derajat dan meninggikan kedudukan mereka.
Dan jikalau salah seorang dari mereka keliru didalam sebagian permasalahan ijtihad, maka hal itu tidaklah menjadi penghalang untuk kita istifadah (mengambil faidah) dari ilmu-ilmu mereka, dan tidaklah ada yang selamat dari kesalahan serta kekeliruan kecuali siapa saja yang dijaga oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan kesempurnaan hanyalah milik Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan hendaklah kalian berhias dengan akhlak yang baik dan adab yang mulia, karena sesungguhnya akhlak yang baik akan menyebabkan timbangan alhasanat (amal kebaikan) menjadi berat, dan sifat itupun merupakan sebab memasuki jannah, dan juga sebab yang dapat menimbulkan rasa cinta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan RasulNya, serta sebab untuk dekat dengan Beliau di hari kiamat kelak. Dan tidak ada sesuatupun yang diletakkan diatas timbangan seorang hamba yang lebih berat daripada akhlak yang baik, dan sungguh seorang yang berakhlak baik akan sampai kepada derajat orang yang melakukan shalat dan shaum dikarenakannya.
Disebutkan didalam hadits Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhuma secara marfu’: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Maukah kalian aku beritahukan tentang seseorang yang paling aku cintai dan paling dekat denganku tempat duduknya pada hari kiamat kelak?”, para sahabat menjawab: “tentu”, Beliaupun bersabda: “dia adalah orang yang paling baik akhlaknya diantara kalian“.
Dan disebutkan didalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu :
“(Amalan) yang paling banyak memasukkan ke jannah adalah akhlak yang baik dan taqwa kepada Allah“.
Dan termasuk dari perkara yang akan memperkuat ikatan persaudaraan, dan mempersatukan hati, serta menghilangkan (kejelekan) yang ada dalam jiwa, yaitu hendaklah seorang hamba mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri, dan hendaklah menahan diri untuk menyakiti saudaranya baik itu dengan tangan, atau lisan, ataupun yang lainnya. Sebagaimana disebutkan didalam hadits Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
Aku bertanya: “Wahai Rasulallah amalan apakah yang paling utama?”, Beliau menjawab: “iman kepada Allah dan jihad dijalanNya”, aku bertanya: “jika aku tidak bisa melakukannya?”, Beliau menjawab: “hendaklah engkau menolong orang yang melakukannya atau engkau beramal untuk seorang yang jahil”, aku bertanya: “apa pendapatmu jika aku tidak mampu dalam sebagian amalan?”, Beliau menjawab: “tahanlah sikap jahatmu dari manusia, karena sesungguhnya hal itu adalah shadaqah darimu untuk dirimu“.
Dan termasuk dari perkara yang akan mendatangkan rasa cinta serta akhlak yang baik yaitu hendaklah memaafkan kesalahan-kesalahan ikhwan dan janganlah mencela mereka dikarenakan kekelirua-keliruan yang terjadi, dan hendaklah berusaha dengan sungguh agar tercipta sedikitnya perselisihan, dan bersungguh-sungguhlah untuk tegak diatas kebersamaan.
Dan jika salah seorang dari ikhwan tergelincir berbuat kesalahan, maka carilah untuknya sembilan puluh udzur, dan janganlah sibuk dengan aib-aib ikhwan sedangkan engkau lupa dengan aib diri sendiri. Sebagian Ulama rahimahumullah mengatakan:
“Seorang mukmin akan mencari berbagai udzur bagi saudaranya, sedangkan seorang munafik akan mencari-cari segala kesalahan mereka“.
Dan terakhir, ketahuilah:
“Sesungguhnya Allah menyuruh untuk berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan“. [An Nahl: 90]
Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan (agar kita berlaku) inshaf dan bersikap adil dengan seadil-adilnya walaupun hanya pada diri sendiri, atau terhadap kedua orang tua, ataupun terhadap sanak kerabat. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan agar kita bersegera terhadap perkara yang akan mendatangkan ampunanNya dan akan menghantarkan kedalam jannah yang luasnya seluas tujuh langit dan bumi, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Dan bersegeralah kalian kepada ampunan dari Rabb kalian dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebajikan“. [Ali ‘Imran: 133-134]
KSA Riyadh, 29 Dzulqo’dah 1430 H
Bertepatan dengan 17 November 2009 M
Ket: Kurang-lebih 20 tahun yang lalu beliau pensiun dari Majlis Al-Qadha di kota suci Makkah Al-Muharramah sebagai Al-Mufti Al-Qadhi, semenjak itu sampai saat ini beliau bermukim di kota Riyadh dan beliau menghabiskan waktunya untuk duduk di maktabah.
Beliau adalah Shahibul fadhilah Asy-Syaikh Al-Mukarram Shalih bin Abdul Aziz bin Abdillah Al-Ghusn lahir di Buraidah Al-Qashim pada tanggal 01 Rajab tahun 1356 H (berarti usia beliau sekarang kurang lebih 75 tahun).
[Alih bahasa oleh Syuhada Abu Syakir Al-Iskandar As-Salafy Al-Andunisy]
– text asli:
الحمد لله ربّ العالمين وصلّى الله وسلّم على أشرف خلقه وأكرمهم وأحسنهم خُلُقا أثنى الله عليه
بقوله: وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ (4)
وقال تعالى: وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ (159)
وقال تعالى: فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاصْفَحْ (13)
فيا معشر الأحبّة أوصيكم ونفسي بتقوى الله في السّرّ والعلن, وتقوى الله هي امتثال أوامره واجتناب نواهيه, والتقوى وصية الله للأوّلين والأخرين,
كما قال تعالى: وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوا الله (131)
فهي الوصية العظيمة الجامعة لحقوق الله وحقوق عباده, بأن يطاع فلايعصى, ويذكر فلاينسى, ويشكر فلايكفر, والتقوى وصية الرسول صلى الله عليه وسلم لأمّته كما في خطبة الوداع,
وكان إذا أمّر أميرا على جيش أو سرية أوصاه بتقوى الله, ووصّى بها معاذا رضي الله عنه
قائلا له: اتق الله حيثما كنت
وعليكم بالإخلاص وحسن النية في العلم والعمل, فإنكم مأمورين بذلك
في قوله تعالى: وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ (5)
قُلِ اللَّهَ أَعْبُدُ مُخْلِصًا لَهُ دِينِي (14)
فانو الخير تكن من أهله,
كما أوصيكم بالحرص على العلم النافع, تدبّر كتاب الله, واتباع سنّة رسوله صلى الله عليه وسلم التي حثّ عليها الرسول صلى الله عليه وسلم
بقوله: فعليكم بسنتي، وسنة الخلفاء الراشدين المهديين من بعدي، تمسكوا بها، وعضوا عليها بالنواجذ، وإياكم ومحدثات الأمور
كما أوصيكم بما أرشد إليه المصطفى صلى الله عليه وسلم
بقوله: لا تحاسدوا ولا تباغضوا ولا تدابروا ولا يبع بعضكم على بيع بعض وكونوا عباد الله إخوانا الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ ؛ لا يَظْلِمُهُ ، وَلا يَخْذُلُهُ ، وَلا يَحْقِرُهُ ، التَّقْوَى هَاهُنَا ، و يُشِيرُ إِلَى صَدْرِهِ ثلاث مرات بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنْ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ ، كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ
فبدأ هذا الحديث الشريف بالتحذير من الحسد, فإن الحسد يأكل الحسنات كما تأكل النار الحطب, وإذا أحسست شيئً من ذلك لأحد إخوانك فاكتمه ولاتظهره ولاتحدّث به, فإنه قد قيل ما خلا جسد من حسد, لكن اللئيم يبديه والكريم يخفيه,
وعليكم ياأحبّتي بالتآلف والمحبّة وجمع الكلمة وأداء الحقوق التي حثّ عليها الرسول صلى الله عليه وسلم ورغّب فيها
قائلا: حَقُّ المُسْلِم عَلَى المُسْلِم ستٌّ : إِذَا لَقيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيهِ ، وَإِذَا دَعَاكَ فَأجبْهُ ، وإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ ، وإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ الله فَشَمِّتْهُ ، وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ ، وَإِذَا مَاتَ فَاتَّبِعْهُ رواه مسلم
وحقوق الإخوة ليست محصورة في هذه, وإنما هي نماذج وتوجيهات ينبغي فهمها والإعتناء بها,
كما أوصيكم باحترام العلماء والأخذ منهم فإن العلماء ورثة الأنبياء, فينبغي احترامهم واجلالهم, فإن الله رفع قدرهم وأعلى شأنهم, حتى ولو غلِط بعضهم في بعض مسائل الإجتهاد, فلايكون ذلك مانعا من الإستفادة من علومهم, ولايسلَم من الأخطاء الا من عصَمه الله والكمال لله وحده,
وعليكم بالأخلاق الحسنة والآداب الفاضلة فإن حسن الخلق يثقل ميزان الحسنات, وهو سبب لدخول الجنة, والى محبة الله ومحبة رسوله والقرب منه يوم القيامة,
فإنه ما من شيئ يوضع في ميزان العبد أثقل من حسن الخلق, وإن صاحب حسن الخلق ليبلغ به درجة صاحب الصوم و الصلاة,
وفي حديث عبد الله بن عمرو رضي الله عنهما مرفوعا
ألا أخبركم بأحبكم إلي وأقربكم منى مجلسًا يوم القيامة قالوا بلى قال أحسنكم خلقًا
وفي حديث ابي هريرة رضي الله عنه
أكثر ما يدخل الجنة تقوى الله وحسن الخلق
ومما يقوّي الترابط بين الإخوة ويألّف قلوبهم ويزيل ما في النفوس, أن يحبّ المرء لأخيه ما يحبّ لنفسه, وأن يكُفّ عنهم الأذى باليد أو بالسان أو غيره,
كما في الصحيحين من حديث ابي ذرّ رضي الله عنه قال:
قلت يا رسول الله أيّ الأعمال أفضل قال الإيمان بالله والجهاد في سبيله, قُلْتُ فَإِنْ لَمْ أَفْعَلْ ؟ قَالَ : تُعِينُ صَانِعًا أَوْ تَصْنَعُ لأَخْرَقَ، قُلْتُ : أرأيْتَ إنْ ضَعُفْتُ عَنْ بَعْضِ العَمَلِ ؟ قَالَ : فكُفَّ شَرَّكَ عَنِ النَّاسِ, فإنَّهَا صَدَقَةٌ مِنْكَ عَلَى نَفْسِكَ
ومما تقتضيه المحبة وحسن الخلق, الصفْح عن عثْرات الإخوان وترك تأنيبهم بها والحرص على قلّة الخلاف والحرص على لزوم الموافقة,
وإذا زلّ أحد اخوانك فاطلب له تسعين عذرا, و لا تشتغل بعيوب الناس وتنسى عيب نفسك,
قال بعض الفضلاء: المؤمن يطلب معاذير اخوانه, والمنافق يطلب عثْراتهم,
وأخيرا اعلموا
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ (90)
وحثّ على الإنصاف والقوامة بالقسط ولو على النفس أو الوالدين أو الأقربين,
وأمر الله بالمسارعة إلى ما يوجب مغفرته ويدخل الجنة التي عرضها السموات والأرض,
قائلا: وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ (133) الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (134)
وصلى الله وسلم على نبينا وعلى آله وأصحابه ومن اتّبعهم بإحسان الى يوم الدين
Sumber: http://adhwaus-salaf.or.id/2010/02/10/nasehat-asy-syaikh-shalih-abdul-aziz-al-ghusn/
http://www.assalafy.org/mahad/?p=451
Perbaikilah Qalbumu Wahai Saudaraku Yang Salafiy
Oleh: Syaikh Muhammad Bin Abdullah Al Imam
Segala puji bagi Allah dan aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, semoga sholawat dan salam senantiasa Allah curahkan kepadanya, kepada keluarganya dan para sahabatnya.
Semoga Allah terima kebaikan ayahanda kami Al ‘Allaamah Syaikh Robi’ Al Madkholiy atas nasehat yang telah beliau sampaikan, yang nasehat tersebut menunjukkan semangat besar beliau atas kaum muslimin secara umum dan atas saudara-saudara beliau para ahlus sunnah secara khusus. Dalam nasehat ini, beliau telah mengingatkan kita dengan nasehat ayahanda dan syaikh kita Al ‘Allaamah Al Waadi`iy semoga Allah merahmati beliau. Beliau dahulu seringkali berwasiat dengan keikhlasan untuk Allah. Beliau pernah berkata:
“Sesungguhnya kita lebih mengkhawatirkan (perlakuan buruk) dari diri kita sendiri terhadap dakwah ini, daripada (perlakuan buruk) dari orang lain terhadapnya”.
Maka wasiat-wasiat ahlul ilmi dan nasehat-nasehat mereka, haruslah senantiasa dijadikan pelajaran, diterima, dicamkan sungguh-sungguh dan dilaksanakan. Maka perkataan Syaikh kita Al Waadi’iy -semoga Allah merahmati beliau-:
“Sesungguhnya kita lebih mengkhawatirkan (perlakuan buruk) dari diri kita sendiri”
Ini adalah perkara penting. Yaitu agar kita semua tahu bahwa kesalahan-kesalahan kita dan pelanggaran-pelanggaran kita lebih membahayakan dakwah kita daripada apa yang diperbuat oleh para lawan terhadapnya di sekian banyak kesempatan.
Kalau pelanggaran-pelanggaran ini dipertahankan oleh para pelakunya secara bersikukuh, dengan memberikan sanggahan dan melontarkan bantahan.
Maka wahai para ikhwah, aku ajak diriku dan saudara-saudaraku -semoga Allah menjaga mereka- untuk memberi perhatian terhadap perbaikan qalbu-qalbu kita.
Modal kita adalah qalbu-qalbu kita. Kalau baik qalbu-qalbu ini, maka bergembiralah. Dan hendaknya kita meneladani orang-orang yang paling baik dan paling mulia setelah para Nabi dan Rasul, yaitu para Sahabat rodhiyallaahu’anhum. Para Sahabat, qalbu-qalbu mereka dipenuhi kebaikan. Sehingga ketika turun firman Allah:
لله ما في السموات وما الأرض وإن تبدوا ما في أنفسكم أو تخفوه يحاسبكم به الله
“Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikan, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu…” (Q.S.2:284)
Mereka langsung menemui Rasulullah shollallahu’alayhiwasallam dan berlutut serta berkata: “Wahai Rasulullah, telah Allah turunkan ayat ini kepadamu, maka kami tidak dapat menyanggupinya!”
Padahal dalam ayat itu tidak ada amalan-amalan zohir! Di dalamnya tidak ada kewajiban-kewajiban baru untuk amalan-amalan zohir. Dalam ayat itu hanya diterangkan bahwa Allah akan menghisab para hamba atas apa yang ada dalam qalbu mereka. Allah akan menghisab mereka atas apa yang terdapat dalam qalbu mereka.
Mereka berkata: “Wahai Rasulullah, kami diperintah untuk berjihad, maka kami berjihad. Kami diperintah untuk bershodaqoh, maka kami bershodaqoh. Kami diperintah untuk berhijrah, maka kami berhijrah. Akan tetapi kami tidak dapat menyanggupi ayat ini.
Ini adalah salah satu tanda kefaqihan mereka, kejujuran mereka dan keikhlasan mereka, yaitu mereka ingin qalbu-qalbu mereka diridhoi oleh Allah.
Maka Rasulullah shollallaahu’alayhiwasallam berkata: “Apakah kalian hendak mengatakan seperti yang dikatakan oleh Orang-orang Yahudi dan Nasrani: (kami mendengar dan kami bangkang). Katakanlah: (kami mendengar dan kami taati)”.
Mereka pun berkata: “Kami dengar dan kami taati”. Maka Allah menurunkan ayat “Rasul telah beriman.. (hingga akhir ayat)” (Q.S.2:285). Hadis ini diriwayatkan oleh Muslim.
Poinnya adalah bahwa para Sahabat senantiasa khawatir atas kejelekan-kejelekan qalbu, kerusakan-kerusakan qalbu dan penyakit-penyakitnya.
Siapakah orang yang selamat qalbunya?
Ketika turun firman Allah:
وَلَقَدْ صَدَقَكُمُ اللّهُ وَعْدَهُ إِذْ تَحُسُّونَهُم بِإِذْنِهِ حَتَّى إِذَا فَشِلْتُمْ وَتَنَازَعْتُمْ فِي الأَمْرِ وَعَصَيْتُم مِّن بَعْدِ مَا أَرَاكُم مَّا تُحِبُّونَ مِنكُم مَّن يُرِيدُ الدُّنْيَا وَمِنكُم مَّن يُرِيدُ الآخِرَةَ ثُمَّ صَرَفَكُمْ عَنْهُمْ لِيَبْتَلِيَكُمْ وَلَقَدْ عَفَا عَنكُمْ وَاللّهُ ذُو فَضْلٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ
“Dan sesungguhnya Allah telah memenuhi janji-Nya kepada kamu, ketika kamu membunuh mereka dengan izin-Nya sampai pada sa’at kamu lemah dan berselisih dalam urusan itu dan mendurhakai perintah (Rasul) sesudah Allah memperlihatkan kepadamu apa yang kamu sukai . Di antaramu ada orang yang menghendaki dunia dan diantara kamu ada orang yang menghendaki akhirat. Kemudian Allah memalingkan kamu dari mereka untuk menguji kamu, dan sesunguhnya Allah telah mema’afkan kamu. Dan Allah mempunyai karunia (yang dilimpahkan) atas orang orang yang beriman.” (Q.S.3:152)
Ibnu Mas’ud berkata: “Demi Allah, aku tidak pernah tahu bahwa ada seseorang yang menginginkan dunia sampai turunnya ayat ini”. Karena mereka berjihad di jalan Allah. Orang-orang Muhajirin dan Anshor rodhiyallaahu’anhum:
Orang-orang Muhajirin: mereka telah meninggalkan tanah kelahiran, sahabat, anak-anak, harta benda, dan mereka berhijrah demi Allah dan Rasul-Nya shollallaahu’alayhiwasallam.
Orang-orang Anshor: mereka telah membela Allah dan membela Rasul-Nya, mereka mengerahkan harta benda mereka, mempersiapkan diri dan bersemangat untuk berjihad, berdakwah, mengajar dan sebagainya. Lalu turun ayat ini:
مِنْكُمْ مَنْ يُرِيدُ الدُّنْيَا وَمِنْكُمْ مَنْ يُرِيدُ الْآخِرَةَ
“..Di antaramu ada orang yang menghendaki dunia dan diantara kamu ada orang yang menghendaki akhirat..” (Q.S.3:152)
Maksudnya adalah bahwa asal kesalahan yang terjadi itu adalah sikap menginginkan dunia. Dan yang dimaksud dengan “menghendaki dunia” di sini adalah “ghonimah” (harta rampasan perang). Yang dimaksud dengan “menghendaki dunia” bukan menghendaki dunia secara terus menerus seperti yang sedang terjadi saat ini!
Kalau kita periksa qalbu-qalbu kita, apa yang akan kita temukan?!!
Apa yang akan kita temukan di dalamnya?!!
Dari hal-hal yang kalau kita paparkan dalil-dalil tentang hal-hal tersebut, maka kita akan tahu bahwa qalbu-qalbu kita perlu diselamatkan! Perlu diperbaikin! Perlu diperiksa ada apa di dalamnya!
Berkata Al ‘Allaamah Ibnul Jawziy -semoga Allah merahmatinya-: Orang yang tersandung di jalan itu tidak lain adalah orang yang belum mengikhlaskan amalnya untuk Allah”.
Engkau lihat salah seorang dari kita, ada yang telah menempuh jarak sedemikian jauh dalam kebaikan, ia selalu bersegera kepada kebaikan, bersemangat di dalamnya dan giat terhadapnya, namun setelah itu engkau melihat kemunduran dan kelalaian padanya yang membuatmu merasa aneh! Padahal kita tahu bahwa setiapkali seseorang berusaha melaksanakan ketaatan, Allah akan mengganjarnya dengan semakin besarnya kecintaannya, pengagungannya dan ketekunannya serta kekonsistenannya atas kebaikan tersebut. Kita baca firman Allah:
والذين اهتدوا زادهم هدى
“Dan orang-orang yang mau menerima petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka” (Q.S.47:17)
Maka melaksanakan suatu ibadah dan ketaatan merupakan bagian dari petunjuk yang akan Allah tambahkan petunjuk-Nya kepada orang yang taat. Akan tetapi sebagaimana yang telah kalian dengar, perhatian kita untuk memperbaiki qalbu adalah suatu perkara yang sangat penting.
Jangan kau tanyakan perihal qalbumu kecuali kepada dirimu sendiri.
Lihatlah, di manakah engkau?
Lihatlah, di manakah engkau?
Oleh karena itu, telah datang suatu riwayat di dalam Shahih Bukhori dan Muslim, dari hadis Abu Huroiroh, bahwa Rasulullah shollallahu’alayhiwasallam bersabda:
“Ada salah seorang nabi yang berperang. Lalu ia berkata kepada kaumnya: “Jangan ikut aku orang yang sudah beristri dan ingin bermalam bersamanya tapi belum bermalam dengannya sampai sekarang, dan orang yang telah membangun rumah namun belum memasang atapnya, dan orang yang telah membeli kambing atau ternak betina yang sedang hamil dan dia sedang menunggu ternaknya itu beranak..” al hadis.
Nabi ini tidak menerima orang yang di hatinya ada keterpautan dengan perkara-perkara dunia karena ditakutkan dengan sebab kesibukannya dan keterpautan hatinya atas perkara-perkara itu, ia menjadi tidak ikhlas kepada Allah dan tidak bersungguh-sungguh serta tidak sabar berjihad di jalan Allah, dan akan selalu menunggu-nunggu kapan ia bisa pulang kembali kepada perkara-perkara duniawinya itu!
Maka salah satu sebab penyakit hati adalah cinta dunia, cinta dunia. Maka wahai saudara-saudaraku, (cinta dunia itu) adalah salah satu malapetaka dan penyakit berbahaya.
Masing-masing kita memiliki naluri, kita telah dijadikan dan diciptakan dalam keadaan cenderung kepada cinta dunia. Dan tidak ada orang yang bisa menghindari ini dan bisa selamat kecuali sebesar usahanya memperbaiki qalbunya dan memerangi nafsunya, dan dengan melihat di manakah ia dalam memperbaiki qalbunya?
Di manakah ia dalam memperbaiki qalbunya?
Kalau qalbu ini tidak dipenuhi dengan kebaikan, dengan takut kepada Allah, dengan ikhlas kepada Allah dan bersungguh-sungguh bersama Allah, ia akan dipenuhi dengan fitnah dan penyakit.
Berkata Ibnul Jawziy -semoga Allah merahmatinya-: “Azh Zhulmu (kezoliman) itu dinamai dengan zhulmun, karena ia dari zhulmatul qolbi (kegelapan qalbu). Karena qalbu yang terang itu tidak akan menerima kegelapan. Dan kalau ia tidak terang, ia menjadi gelap dan darinyalah kezoliman itu datang”.
Maka qalbu itu membutuhkan cahaya, makanan, kesembuhan dan itulah makanannya yang telah Allah pilihkan dan telah Ia turunkan sebagai rahmat dari-Nya kepada kita dan sebagai inayah untuk memberi kita hidayah dan tawfiq.
Cahaya qalbu, makanannya, kesembuhannya dan obatnya terdapat dalam Al Quran Al Karim dan As Sunnah Al Muthohharoh.
Apakah kita bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu?!! Ilmu syar’iy?!!
Ilmu itu adalah cahaya yang lebih terang dari cahaya matahari dan bulan. Maka janganlah kita menyia-nyiakan diri kita dan hidup tanpa dibarengi dengan belajar, tanpa halqoh ilmu, tanpa berinteraksi dengan Al Quran.
Belajar, mengajar, mengkaji, memberi nasehat kepada orang banyak, berdakwah dan mengajak kepada Allah ‘azza wa jalla. Kalau tugas kita tidak sedemikian, dengan sungguh-sungguh, tekad yang kuat, kesabaran dan kerelaan serta kesadaran, maka kita akan hancur dan hancurlah dakwah kita serta hancurlah ukhuwah kita.
Berkata Syaikh kita Al Waadi’iy: “Ahlus Sunnah itu banyak, namun mereka berpencar. Mereka tidak saling mencari dan tidak saling berkenalan!”
Ini adalah salah satu dari sejumlah kesalahan dan kelalaian yang ada pada kita.
Oleh karena itu wahai ikhwah sekalian, pembicaraan ini bisa melebar ke mana-mana. Maka singkatnya: nasehat ayahanda kita Syaikh Robi’ semoga Allah menjaganya: ikhlas kepada Allah. Dan betapa indahnya apa yang beliau katakan itu. Semoga Allah membalasnya dengan kebaikan. Dan demikian pulalah hendaknya orang-orang yang tulus itu memberikan nasehatnya.
Berpegang teguh dengan kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya shollallaahu’alayhiwasallam. Ini merupakan -sebagaimana yang kalian ketahui- sebuah prinsip agung yang tidak ada yang dapat melaksanakannya kecuali Ahlus Sunnah.
Adapun selain Ahlus Sunnah, maka mereka adalah orang-orang yang berusaha untuk menghancurkan prinsip ini sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Ahmad -semoga Allah merahmatinya-: “Para ahli bid’ah itu berselisihpendapat, menyelisihi Al Quran dan bersepakat untuk menyelisihi Al Quran”.
Berpegang teguh dengan Al Kitab dan As Sunnah itu tidak akan diwujudkan kecuali oleh orang yang meridhoi Allah sebagai Tuhannya, Islam sebagai agamanya dan Muhammad shollallahu’alayhiwasallam sebagai Rasul dan Nabinya ‘alayhishsholaatuwassallaam. Barangsiapa yang menghendaki Allah dan tidak menginginkan dunia, dan barangsiapa yang mengasihi hamba-hamba Allah, sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiah semoga Allah merahmatinya: “Ahlus Sunnah itu golongan yang paling memahami kebenaran dan yang paling mengasihi orang banyak”,
Maka rasa kasih itu akan datang ketika kita belajar, berbekal dengan ilmu, dan berupaya memberikan nasehat dan bimbingan kepada orang banyak. Umat ini dan orang banyak sedang membutuhkan nasehat dan pengajaran. Dan sebagaimana yang kalian ketahui, baarokallaahu fiikum, bahwa dakwah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, Dakwah Salafiyyah, telah Allah jadikan bermanfaat untuk orang banyak di timur maupun di barat. Dan bahwa ia pada masa sekarang ini, telah tumbuh dari negeri ini (Saudi), dan semoga Allah menjadikan negri ini bermanfaat untuk orang banyak di timur ataupun di barat. Oleh karena itu aku nasehatkan kepada para ulama dan para da’i -walaupun aku sebenarnya adalah orang yang paling membutuhkan nasehat, tapi tidak ada halangan untuk kami ingatkan- maka aku nasehatkan kepada para ulama di negeri ini, aku maksudkan para ulama Ahlus Sunnah, dan kepada para da’i serta para penuntut ilmu untuk terus melanjutkan penyebaran dakwah yang dengannya Allah telah memuliakan kalian, sebagai dakwah yang murni dan bersih. Bukan hizbiyyah, bukan paham ketimuran, bukan paham kebaratan, dan juga bukan bid’ah. Akan tetapi berpegang teguh dengan Al Kitab dan As Sunnah. Dan tanpa mengoyak, tanpa mengganti, tanpa merubah. Akan tetapi dengan ittiba’, berpegang teguh dan meneladani serta berpegang erat dengan minhaj nubuwwah.
Kita mohonkan kepada Allah dengan karunia dan kemurahan-Nya, agar Ia menambahkan hidayah, ketakwaan kepada kita, dan agar Ia memperbaiki qalbu-qalbu kita serta agar Ia senantiasa menjaga ukhuwah kita dalam agama ini. Dan tidak ada daya dan upaya melainkan dengan Allah Tuhan semesta alam.
Diterjemahkan oleh Abu Abdil Halim Zulkarnain dari tautan: http://www.sh-emam.com/play-441.html
URL Sumber : http://darussunnah.or.id/artikel-islam/nasehat/perbaikilah-qalbumu-wahai-saudaraku-yang-salafiy/#more-1034


